Katua SP FSPMI PT Smelting Cemaskan Pasca Mogoknya Ratusan Karyawan

KANALINDONESIA.COM, GRESIK : Ketua Serikat Pekerja Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SP FSPMI) PT. Smelting, Zaenal Arifin, khawatir akan keadaan pabrik yang mengolah biji tembaga tersebut pasca mogok kerja 309 karyawan. Menurutnya, kondisi pabrik saat ini membahayakan karena kebanyakan karyawan mogok adalah karyawan skill yang hafal dan tahu persis kondisi mesin di areal produksi pabrik.

Zaenal menjelaskan pabrik saat ini rawan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. “Bahaya, bisa terjadi kebocoran gas SO2 (beracun) atau bahkan terjadi ledakan,” kata Zaenal saat di Sekretariat KWG (Komunitas Wartawan Gresik), Jalan Basuki Rahmat No 8B Gresik, Minggu (26/2/2017).

“Kalau PT. Smelting meledak, maka dampaknya bisa luar biasa. Sebab, ledakannya bisa sampai jarak 3 km. Petrokimia dan warga sekitar bisa terkena dampak ledakan,” jelasnya.

Dijelaskan Zaenal, pabrik yang rencanaya akan beroperasi pada 1 Maret mendatang itu tidak akan bisa berproduksi dengan baik karena operasinya dilakukan oleh karyawan di luar 309 karyawan yang mogok kerja.

“Bisa dipaksakan. Tapi kami tak menjamin bisa berjalan baik. Malah justru sebaliknya bisa terjadi ledakan tadi,” terangnya.

Dia pun memaparkan proses, bahwa mesin produksi berupa converter yang menangkap gas SO2 untuk diolah menjadi asam sulfat pascaoff, membutuhkan waktu 6 hari untuk bisa operasi dengan baik.

“Makanya, kalau mesin mulai produksi atau pabrik jalan per 1 Maret 2017 sangat tidak mungkin. Kami yang mengetahui seluk beluk pabrik, maka kami yang hafal kondisi mesin itu seperti apa,” ungkapnya.

Hal ini diamini Wakil Ketua SP FSPMI PT. Smelting, Ali Rifai. Kata dia, untuk memelajari dan memahami mesin produksi di PT. Smelting membutuhkan waktu lama. Bahkan beberapa karyawan yang diutus ke Jepang untuk belajar mengoperasikan mesin ternyata belum maksimal.

“Masih butuh waktu 1 tahun untuk memahaminya,” katanya.

Ali mengungkapkan, sejak 309 karyawan PT. Smelting mogok kerja pada 26 Januari lalu, 2 kapal berisikan konsentrat yang masing-masing berisikan 26 ribu ton kiriman dari PT. Freeport Indonesia tidak bisa bongkar untuk produksi.

“Sehingga, barang tersebut masih berada di kapal. Lalu berapa kerugian yang diderita Smelting per harinya, karena kapal itu sewa dan harus bayar,” terangnya.

“Mogoknya 309 karyawan itu juga berdampak 1 kapal berisikan konsentrat di PT. Freeport Indonesia yang belum bisa dikirim ke PT. Smelting,” pungkasnya

Sayang, pihak manajemen PT. Smelting belum bisa dikonfirmasi terkait rencana beroperasinya pabrik 1 Maret menadatang.(lan)