Mengaku Jengkel dan Dendam, Novi Wahyuni Kirim Order Fiktif di Desa Jungsemi

Jumpa pers penipuan fiktif di desa Jumsemi Kecamatan Kangkung Kendal

KENDAL, KANALINDONESIA.COM: Pelaku teror orderan fiktif yang sempet viral di Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kendal akhirnya berhasil dibekuk jajaran Reskrim Polres Kendal.

Pelaku yang merupakan teman akrab korban saat kerja di Semarang, dengan sengaja menggunakan akun palsu FB dan belasan nomor telepon untuk memesan barang dan dikirim ke temannya di Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kendal.

Motif yang digunakan pelaku melakukan order fiktif dan dikirim ke temannya karena sakit hati.

Pelaku Novi Wahyuni warga Desa Sidorejo, Karangawen, Demak diamankan di tempat kosnya di Kota Semarang.

Pelaku merupakan teman korban Titik Puji Rahayu yang diduga sakit hati, saat bekerja dengannya di Kota Semarang.

Baca:  JRHAN Gelorakan Jumat Berkah dengan Bagi Nasi

Aksi memesan barang dan mengirimkan ke alamat Titik Puji Rahayu dilakukan beberapa kali, menggunakan akun media sosial palsu dan belasan nomor telepon.

“Saya juga memberikan uang muka agar barang dikirim ke alamat Titik di Desa Jungsemi Kangkung Kendal. Namun ada juga yang memesan barang dan akan dibayar di tempat tujuan,” jelasnya, Senin (03/8/2020) saat jumpa pers di Polres Kendal.

Pelaku Novi Wahyuni yang dendam kepada Titik Puji Rahayu karena pernah memukulnya dan mengaku pernah ada hubungan dengan korban.

“Saya dendam sama Titik karena saat kerja di Semarang, Titik pernah meminta orang lain memukul saya. Saya juga pernah dibilang ada hubungan dengan Titik,” ungkap Novi.

Baca:  Santer Diberitakan Gantikan Azwar Anas, Inilah Penjelasan Ipong

Kapolres Kendal AKBP Ali Wardana menjelaskan, pelaku dendam kepada Titik Puji Rahayu teman waktu bekerja di Semarang.

“Kita masih mendalami motif lainnya pengakuan tersangka, motif melakukan teror oderan fiktif ini karena sakit hati dan dendam,” kata Kapolres.

Kepada pelaku, Polisi menjerat dengan pasal pencemaran nama baik melalui transaksi elektronik dengan ancaman 12 tahun penjara.

“Kita jerat pelaku dengan pasal 51 junto pasal 35 atau pasal 45 Undang-undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik,” jelasnya.

Polisi mengamankan belasan sim card yang digunakan pelaku untuk memesan barang dan akun palsu media sosial yang dibuat pelaku untuk memesan orderan fiktif.

Baca:  Kementan Apresiasi Kabupaten Temanggung Implementasikan Perda LP2B

Pelaku masih menjalani pemeriksaan di Maporles Kendal untuk mengetahui motif lain dari aksi orderan fiktif ini.(Eko)