Kreativitas di Tengah Pandemi Covid-19, Pemuda Ponorogo Sebagai Motor Pembuat Anyaman Bambu

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Covid-19 menimbulkan dampak bagi berbagai pihak, apalagi di Dunia Usaha dan bagi semua lapisan Masyarakat di Indonesia ini.

Di masa Pandemi ini, Desa Mojorejo Kecamatan Jetis Ponorogo tidak tinggal diam begitu saja, Pemuda sebagai agent of change memotori asyarakat untuk membuat anyaman dan kerajinan dari bambu, meskipun selama Pandemi juga dihantui oleh Covid-19, akan tetapi pada Rabu, (12/8/2020) Pemuda dan Masyarakat tetap berkarya dan berkreasi untuk menghasilkan kreativitas dengan olahan bambu.

Aktivis rumah bambu, Zainal Abidin mengatakan,” untuk anyaman bambu itu biasanya karena itu sampingan, jadi tidak banyak pengrajin itu yang membuat full dalam satu hari. Cuma biasanya kalau satu hari itu paling banyak duapuluh sampai sampai tigapuluh pasang. Dan kalau kerajinan bambu yang di buat teko, baki, gelas itu bisa sampai tiga hari dan tergantung kerumitan dan pesanan motif yang di inginkan, dan kalau hanya polosan hanya satu atau dua hari selesai dan kalau motif batik itu sampai empat hari”. Ujarnya.

Baca:  Lagi-lagi Tahanan Lapas Kabur, Dua Napi Kabur Lewat Plafon

Zainal Abidin juga menambahkan,” Untuk bentuk anyaman bambu biasanya yang paling umum adalah besek dengan beberapa variasi ukuran, dan adalagi dengan bentuk kukusan, kemudian tempat telur, kemudian pincuk dan ada juga bentuk kurungan burung maupun ayam juga ada. Dan untuk penjualan dari Lokalan ada dan dari Online juga ada dan menjamah pasar Bali, Surabaya, Jakarta, Bogor. Untuk pembuat anyaman bambu ini diantaranya ibu-ibu PKK, teman-teman Pemuda”. Jelas Zainal.

Sementara itu, Anang Purbantoro yang membuat kerajianan Gelas dan teko dari bambu mengatakan,” sebenarnya awal saya membikin ini tidak lepas dari teman-teman pemuda desa mojorejo yang membikin Galeri Rumah Bambu. Dari situ saya di tawari disuruh bikin cangkir, gelas, teko dari bambu dan nanti akan di pasarkan. Dan akhirnya saya mencoba, dan ternyata hasilnya juga lumayan untuk dari segi ekonomi dan bisa membantu saya untuk mencukupi ekonomi keluarga. Dan sampai sekarang masih berlanjut dan alhamdullilah pesanan ada terus dan sangat membantu untuk saya. Kalau pesanan sampai saat ini dari surabaya, banyuwangi dan bogor”. Terangnya.

Baca:  KPU Pacitan Gelar Media Gathering Bersama Puluhan Media se Kabupaten Pacitan

Anang juga menjelaskan,” untuk kelebihan perabot dari bambu ini lebih tahan daripada gelas kaca, soalnya ini tidak bisa pecah dan tingkat keawetannya cukup lama. Untuk gelas yang dari bambu kalau untuk menyeduh teh atau kopi memang lebih cepat dingin, dan mungkin karena dari bahannya bambu ini. Kalau dari segi kendala pembuatan tidak ada sebenarnya, tapi kalau masalah lamanya itu tergantung dari motifnya susah apa tidak, dan kalau mintanya polosan ya cepat selesainya. Kalau untuk harga dari kerajinan ini antara seratus limapuluh ribu sampai dengan tigaratus ribu dalam satu set”. Jelas Anang. (Amar)