Riset Unilever: Baru 11,83% Sampah Plastik di Daur Ulang, Sisanya Dibuang

Para pembicara mengenai rantai nilai sampah plastik yang disampaikan melalui webinar zoom di Jakarta, Rabu (19/8/2020)

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Unilever Indonesia merilis hasil riset mengenai rantai nilai sampah plastik di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Hasilnya, ternyata baru sekitar 11,83% sampah plastik yang sudah didaur ulang.

Oleh karena itu, sebagai perusahaan yang memiliki komitmen jangka panjang dalam menangani permasalahan sampah plastik di Indonesia dari hulu ke hilir, Unilever mengajak masyarakat untuk meningkatkan laju daur ulang sampah plastik pasca konsumsi. Perusahaan ini juga mendorong digitalisasi Bank Sampah melalui kolaborasi dengan Google My Business.

Digitalisasi ini memungkinkan masyarakat untuk lebih mudah menemukan Bank Sampah, sehingga masyarakat yang sudah memilah sampah dari rumah akan bisa menyalurkan sampahnya dengan tepat, tidak terbuang ke TPA.

Demikian dikatakan Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia, Tbk melalui webinar zoom di Jakarta, Rabu (19/8/2020).

“Permasalahan pengelolaan sampah plastik maupun pengelolaan sampah secara keseluruhan memerlukan perhatian serius dari kita semua. Sebagai pihak produsen, paling lambat pada tahun 2025, Unilever secara global berkomitmen untuk mengurangi setengah dari penggunaan plastik baru, mempercepat penggunaan plastik daur ulang, serta mengumpulkan dan memproses kemasan plastik lebih banyak daripada yang dijualnya,” kata Nurdiana.

“Dalam upaya mewujudkan komitmen tersebut, kami melihat bahwa perubahan pola pikir, kebiasaan, hingga ke tatanan sistem saat ini dibutuhkan untuk memastikan bahwa plastik tidak melulu menjadi sumber masalah, bahkan justru memberikan keuntungan bagi kita. Untuk itu, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pihak produsen seperti Unilever, dan juga seluruh lapisan masyarakat,” imbuhnya.

Baca:  Kurangi Penggunaan Plastik, Bupati Ponorogo Terbitkan Surat Edaran Untuk Kemasan Daging Kurban

Ia menambahkan, guna  membantu meningkatkan laju pengumpulan dan daur ulang kemasan plastik pasca konsumsi, pihaknya melakukan pemetaan mata rantai kemasan pasca konsumsi yang dapat didaur ulang; termasuk data mengenai pelaku pendaur ulang, potensi pasokan, model bisnis, dan kerangka kerja proses pengumpulan kemasan yang dapat didaur ulang.

“Sepanjang bulan Oktober 2019 hingga 20 Februari 2020, kami bekerjasama dengan Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR) melakukan sebuah studi mengenai tentang rantai nilai sampah plastik, khususnya di Pulau Jawa,” ujar Nurdiana.

Sementara itu, Dini Trisyanti selaku Direktur SWI mengungkapkan hasil studi tersebut, bahwa masyarakat di perkotaan Pulau Jawa menghasilkan sekitar 189.000 ton/bulan atau 6.300 ton/hari sampah plastik, dan hanya sekitar 11,83% atau kurang lebih 22.000 ton/bulan yang dikumpulkan kemudian didaur ulang. Sedangkan sisanya sekitar 88,17% masih diangkut ke TPA atau berserakan di lingkungan.

“Penyerapan sampah plastik pasca konsumsi di Pulau Jawa masih sangat rendah, yakni baru sekitar 0,09 juta ton plastik per tahun dibandingkan dengan kapasitas daur ulang plastik nasional yang berada dikisaran 1,65 juta ton plastik per tahun. Dibutuhkan intervensi dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk menjembatani kesenjangan ini, termasuk dari sisi teknologi dan inovasi,” ungkap Dini.

Baca:  Akhirnya, Surian Serahkan 1 Pucuk Senjata Api Rakitan Kepada Anggota Unit Intel Kodim 0911/Nnk

Ditambahkan pula oleh Maya Tamimi selaku Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia Foundation, pihaknya berharap studi ini akan bermanfaat bagi sesama pelaku industri, membantu meningkatkan kehidupan dan penghidupan semua pihak yang terlibat di dalam mata rantai kemasan daur ulang, serta menjadi pembelajaran nyata yang nantinya dapat membantu para pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan untuk lebih mempertajam strategi pengelolaan kemasan pasca konsumsi sekaligus memetakan potensi ekonomi sirkulernya.

Selanjutnya, temuan lain pada studi ini menunjukkan bahwa dari sekitar 22.000 ton sampah plastik yang dikumpulkan, 83% berasal dari pemulung, 15,2% dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) ataupun Tempat Pengolahan Sampah 3R (TPS3R), dan hanya 1,5% berasal dari Bank Sampah. Hal ini menunjukkan peran Bank Sampah sebagai salah satu pihak yang memiliki fungsi strategis dalam mengatasi dampak sampah pasca konsumsi masih perlu ditingkatkan.

“Percaya akan potensi dan manfaat Bank Sampah yang begitu besar, sejak 2008 Unilever Indonesia Foundation mulai mengenalkan program Bank Sampah berbasis komunitas. Hingga saat ini kami telah membangun 3.858 unit bank sampah dan telah mengurangi sebanyak 12.487 ton sampah non-organik,” jelas

Baca:  Unilever Muslim Centre of Excellence Dukung Indonesia Jadi Pusat Ekonomi Syariah

“Menurut pengamatan kami, salah satu kendala yang masih menghambat peranan Bank Sampah adalah aksesibilitas, yaitu belum meratanya penyebaran informasi mengenai lokasi Bank Sampah. Di era teknologi seperti sekarang, digitalisasi bank sampah dapat membantu memudahkan masyarakat mengakses dan memanfaatkan Bank Sampah terdekat,” jelas Maya.

Sejalan dengan upaya Pemerintah untuk menggalakkan digitalisasi Bank Sampah, Unilever Indonesia berkolaborasi dengan Google mendampingi pebisnis Bank Sampah mendaftarkan diri di platform Google My Business (https://www.google.com/business/). Informasi mengenai Bank Sampah mereka akan muncul saat pengguna mencari nama bisnis atau nama bidang usaha di search engine dan Google Maps.

Saharuddin Ridwan selaku Ketua Asosiasi Bank Sampah Indonesia menanggapi, “Kerjasama ini akan sangat membantu masyarakat untuk menemukan Bank Sampah secara online dengan mudah, sehingga pada akhirnya diharapkan akan meningkatkan minat dan partisipasi masyarakat terhadap program Bank Sampah.”

Saat ini, lebih dari 300 Bank Sampah binaan Unilever Indonesia telah terdaftar di Google My Business. Perusahaan akan terus memantau dan mengajak lebih banyak lagi Bank Sampah untuk bergabung, sehingga mereka dapat ikut memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan usaha. Untuk mengetahui data Bank Sampah binaan Unilever Indonesia yang telah terhubung dengan platform Google My Business, silakan kunjungi: www.unilever.co.id/sustainable-living/yayasan-unilever-indonesia/program-lingkungan/. @Rudi