Pembunuh Terapis di Apartemen Puncak Permai Surabaya Terancam Hukuman Mati

Terdakwa Ahmad Junaidi Abdillah Diadili di PN Surabaya Menggunakan Video Teleconferen, (foto: Ady_kanalindonesia.com)

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya mulai menyidangkan Ahmad Junaidi Abdillah, terdakwa kasus pembunuhan terhadap seorang terapis cantik bernama Ika Puspita Sari di Apartemen Puncak Permai Tower A Surabaya, Senin (28/9/2020).

Sidang dengan beragendakan keterangan saksi digelar di ruang Cakra PN Surabaya. Ada empat orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Surabaya, Suwarti. Terdiri dari dua orang sekuriti Apartemen, tukang parkir dan adik ipar korban.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Mohammad Basir, dua sekuriti dan tukang parkir tersebut membenarkan terkait kedatangan terdakwa di Apartemen Puncak Permai Tower A Surabaya. Sampai disana, terdakwa mengendarai sepeda motor beat.

Ketika JPU Suwarti menanyakan pada saat kejadian, korban mengenakan baju sesuai yang ditemukan Tim Inafis Polrestabes Surabaya di TKP. Para saksi pun membenarkannya. “Benar, bu jaksa,” ujar para saksi secara bersamaan.

Baca:  Novita Handini Arifin, Istri Plt Bupati Lenggak lenggok Peragakan Busana Batik Khas

Selanjutnya, giliran adik ipar korban mengaku, dirinya mengetahui keadaan korban itu ditemukan tewas tersebut setelah petugas Polrestabes Surabaya mendatangi rumahnya di Semarang, Jawa Tengah.

“Saya tahunya waktu polisi datang ke rumah saya di Semarang. Setelah mendapat kabar kakak ipar saya meninggal, saya langsung ke Surabaya. Ke ruang jenazah rumah sakit,” ungkapnya.

Ketua majelis hakim Mohammad Basir, ketika menanyakan terkait kondisi terakhir korban di ruang jenazah, adik ipar korban mengatakan terdapat luka sobek menganga di leher korban.

“Di lehernya ada luka sobek, lebar pak hakim,” jelasnya.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, terdakwa Ahmad Junaidi Abdilah, saat diminta tanggapannya dengan terus terang membenarkan.

Baca:  Polisi Cokok Dua Penjudi Remi

“Benar yang mulia,” ujar terdakwa.

Terpisah, JPU Suwarti saat di temui usai sidang menyampaikan bahwa pada intinya terdakwa mengakui dan membenarkan semua keterangan saksi. Sedangkan terkait pasal yang didakwakan, Suwarti mengatakan bahwa terdakwa dijerat dengan 3 pasal berlapis.

“Terdakwa dijerat dengan pasal 340, 338, dan 362 KUHP. Ada pencuriannya, soalnya handphone korban hilang,” tandas Suwarti.

Untuk diketahui, awal mula terjadinya kasus ini ketika terdakwa membuka aplikasi pertemanan di media sosial Michat. Kemudian terdakwa menemukan akun milik Ika Puspita Sari (korban) dengan nama Vania.

Singkat kata, antara terdakwa dan korban terjalin komunikasi terkait tawar menawar untuk menggunakan jasa layanan pijat dan seks. Setelah disepakati terdakwa mendatangi korban di apartemen puncak permai tower A, dengan nomer kamar 0857.

Baca:  Bupati Madiun, Pentingnya Kedamaian dan Keamanan

Usai melakukan hubungan seksual, terdakwa kemudian memberikan uang sebesar Rp250 ribu. Mengetahui dibayar separuh dari kesepakatan awal yakni Rp500 ribu. Korban lantas mengumpat dan memaki terdakwa.

Merasa tersinggung dengan kata-kata korban, terdakwa yang melihat sebuah pisau di dapur, lantas mengambilnya dan membunuh korban. Ady