Ada Apa 26 Oktober 2020 Nanti Kota Pacitan???

PACITAN, KANALINDONESIA.COM : Wilayah Kabupaten Pacitan disinyalir rawan bencana banjir dan tanah longsor. selain itu topografi Kota Pacitan terletak di pesisir pantai yang akan rawan Stunami yang tidak bisa diprediksi sewaktu-waktu. Untuk itu BPBD Kabupaten Pacitan mensosialisasikan peringatan serentak dengan memukul kentongan sebagai alat mitigasi bencana berbasis kearifan lokal.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan Didik Alih Wibowo, mengatakan ” pemukulan kentongan tersebut sebagai alat peringatan dini dan pencegahan dini bencana di Pacitan.

” pada saat bencana itu darang warga bisa memukul kentongan untuk isyarat bencana datang, itu salah satunya, adanya ancaman Stunami dengan tinggi 20 meter di pesisir selatan Pacitan.

Baca:  Jelang Pergantian Tahun Baru 2018 Jajaran Satlantas Pacitan Adakan Operasi Knalpot Brong

“Instruksi presiden untuk daerah agar melakukan aksi bertajuk daerah punya aksi guna mempersiapkan diri sebagai dampak adanya badai La Nina, karena diperkirakan badai La Nina akan ada sejak bulan September sampai bulan Februari 2021 nanti,”ujarnya,pada Senin (20/10/2020).

Didik mengungkapkan, di 12 Kecamatan memang rawan bencana, namun ada 27 desa dan 7 kecamatan yang membutuhkan perhatian adanya bencana. Pada bulan ini, sebagai akibat adanya badai La Nina ada kenaikan curah hujan sebanyak 50 persen untuk wilayah Pacitan.

“Maka untuk saat ini kita persiapkan langkah persiapan. Salah satunya terkait pemukulan kentongan serentak tanggal 26 OKtober 2020, yang dengan hari kebencanaan, adapun beberapa langkah mitigasi baik struktural maupun non struktural. Diantaranya pembuatan rambu-rambu rawan bencana,” jelasnya.

Baca:  LaNyalla Ingin Jatim Jadi Percontohan Percepatan Pembangunan untuk Daerah Lain

Rencananya, pada tanggal 26 Oktober nanti, akan dilakukan pemukulan kentongan serentak pada pukul 10.00 WIB selama 1 menit.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat hadapi bencana, sosialisasi kentongan sebagai peringatan dini bencana dan membudayakan kentongan sebagai tanda bahaya,”tandasnya.

Selanjutnya, kata Didik, sebagai langkah pencegahan, adalah mitigasi non struktural.

“Yang terpenting kita mampu mengurangi resiko setiap bencana yang terjadi, karena secara topografi wilayah pacitan berada pada teluk atau cekungan pesisir laut lepas,,”pungkasnya. (Lc)