Visi dan Misi Kandidat Masih Jauh dari Harapan Warga Gresik Selatan

GRESIK, KANALLINDONESIA.COM: Debat Paslon Bupati dan Wakil Bupati Gresik tahun 2020 tahap pertama semalam yang live di salah satu stasiun televisi nasional menyisakan sebuah kekecewaan. Sabtu (21/11).

Betapa tidak, kedua pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Kabupaten Gresik dalam debat semalam belum membumi. Ada banyak persoalan yang luput dari pandangan kandidat kedua kubu.

Padahal tema debat yang di usung panelis, dalam debat pertama ini adalah tema yang sangat krusial, yakni menyelesaikan Persoalan Daerah Meningkatkan Pelayanan dan Kesejahteraan Masyarakat.
Jika kita kupas satu persatu tema debat semalam, dalam hal Menyelesaikan Persoalan Daerah ada banyak hal yang tak terjawab dari kedua paslon, seperti, Kemacetan “Abadi” di Legundi yang selalu menghiasi laporan masyarakat di salah satu radio swasta Surabaya.

“Macet di simpang empat Legundi adalah tontonan wajib tiap hari warga Gresik selatan,” ujar hendra, saat nonton bareng debat publik di layar kaca televisi.

Baca:  Ketua DPRD Gresik Ajak Generasi Milenial Sumbangkan Darah Untuk KWG di HPN 2020

Sementara itu Haris Islam,
Direktur, Pusat Utilitas Data dan Analisa Kebijakan menyampaikan,Masyarakat Gresik Selatan sangat resah dan sangat terganggu aktivitasnya dengan persoalan yang tak kunjung terselesaikan, tapi kedua kubu kurang peka dengan ketimpangan yang selama ini masih mendera. Maklum kedua kubu paslon tidak ada satupun yang berasal dari Gresik selatan.

Sehingga tidak memiliki chemistri yang sama. Selain itu ketimpangan pembangunan infrastruktur antara Gresik utara, Gresik Kota dan Gresik selatan juga menjadi persoalan yang tidak pernah menjadi fokus untuk diselesaikan bagi kedua paslon.

“Meskipun Gresik selatan (Wringinanom, Driyorejo, Kedamean dan Menganti) bisa menghasilkan 28,69 Miliar/tahun (data BPS 2019) ternyata belum cukup membuat kedua Paslon fokus mengembangkan Gresik selatan. Jalan-jalan yang rusak, sempit, debu, polusi udara, limbah industri dan seabreg permasalahan yang butuh penanganan cepat. Tidak ada pasar baru, bahkan sekolah dan tempat ibadah banyak yang mangkrak,”kata dia.

Baca:  Harga Ayam Potong Gresik

Ia menambahkan,”Warga Gresik selatan berharap, Melalui Bupati dan Wabup terpilih mampu mensinergikan industri-industri yang menjamur di Gresik untuk mendorong tumbuhnya UMKM di Gresik. Pengusaha UMKM masih berjuang sendiri dalam mengembang tumbuhkan usahanya. Padahal dana-dana Corporate Social Responsibility (CSR) bisa digunakan untuk mendorong pengusaha UMKM di Gresik. Bukannya berusaha mensinergikan justru solusi para paslon malah menggelontorkan dana dari APBD untuk membantu mereka. UMKM butuhnya bukan hanya disuntik modal namun membantu pemasaran produk mereka itu jauh lebih penting untuk keberlangsungan mereka,”sambungnya.

Dampak dari banyaknya Industri di Gresik pun belum di rasakan manfaatnya sepenuhnya oleh masyarakat Gresik. Justru banyak kita jumpai masyarakat yang mengganggur yang tinggal disekitar Industri itu berdiri. Munculnya banyak industri tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena masyarakat hanya menjadi buruh-buruh di pabrik itu, dan tak pernah bisa menjadi leader centre.

Baca:  Ringankan Beban, Kapolres Gresik Bagikan Sembako ke Warga Terdampak COVID-19

“Ironis memang, tapi itulah potret dinamika kehidupan masyarakt Gresik dari tahun ketahun dan dari bupati satu berganti ke bupati yang lainnya,” ujar Haris, warga yang lain saat nonton bareng debat publik Pilakada Serentak di Gresik.

“Intinya, pemaparan visi dan misi kedua paslon semalam ibarat “jauh panggan. Secara keseluruhan dari pemaparan visi dan misi kedua paslon semalam ibarat “jauh panggang dari api”. Ibarat jargon kampanye yang menina bobokkan para pemilihnya. Nasehat kami kepada kedua paslon “Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari.) jadi semua rakyat Gresik akan meminta pertanggung jawaban Anda kelak di yaumil akhir atas kepemimpinan Anda di Kabupaten Gresik,” pungkas Haris.