Hama Patek Menyerang, Hasil Panen Petani Cabai di Desa Tebluru Berkurang

Redono petani Cabai Desa Tebluru. Kecamatan Solokuro menunjukkan tanaman Cabainya yang terserang hama patek. foto:omdik_Kanalindonesia.com

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Harga cabai dipasaran sedang melambung tinggi. Namun, nyatanya tak membuat para petani senang. Di Kabupaten Lamongan para petani cabai selalu dihantui oleh perasaan was-was. Pasalnya saat cabai dipasaran beraangsur-angsur naik, bahkan saat ini tembus harga dikisaran Rp. 50.000/kg justru serangan hama mulai merambah. Hal itu dialamai oleh salah seorang petani asal Desa Tebluru, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Redono.

Redono (63) mengaku sangat kuaitir dengan pertumbuhan cabainya yang kurang maksimal. Pasalnya jelang tanaman akan mulai bisa dipanen justru mengalami banyak gangguan. Selain rumpun pada pucuk-pucuk daunnya mengalami kriting daun juga munculnya hama yang disebabkan oleh pertumbuhan jamur  Colletotrichum capsici tersebut menyerang tanaman cabai belum lama ini. Cuaca yang labil, ia tuding jadi biang kemunculan hama yang oleh petani biasa disebut patek tersebut.

Baca:  Limbah Rumah Tangga
Buah dari tanaman cabai yang terkena hama patek tampak membusuk. foto:omdik_Kanalindonesia.com

“Kami kewalahan dalam menangani kehadiran jamur Antraknosa ini, perkembangannya cepat sekali. Untuk menangkal jamur, segala cara dan obat-obatan kami gunakan,” ujar Redono, Selasa (19/01/2021).

Dia menjelaskan dalam kondisi norman panen cabai biasanya bisa dilakukan pada 90 hari setelah masa tanam. Upaya pemetikan dilakukan selama lima hari sekali. “Ini baru empat kali petik sudah gagal, malah sudah kena jamur, akhirnya kami pun merugi karena tidak bisa melakukan panen cabai,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tebluru, Kecamatan Solokuro, Hamtoro Huda ketika ditemui Kanalindonesia.com membenarkan bahwa hampir seluruh lahan pertanian yang ditanami cabai terkena hama. Selain patek dan kriting, mati layu pun juga menjadi momok tersendiri bagi petani cabai di Desa Solokuro. Lahan pertanian di Desa Solokuro seluas 518 Ha hampir 75 persen ditanami cabai. Sebelumnya petani setempat menanam padi, jagung dan kacang tetapi gagal karena diserang hama tikus.

Baca:  Sidang Perdana Gugatan Nasabah BRI Ponorogo
Petani Desa Tebluru, Kecamatan Solokuro, Kabupetan Lamongan saat memetik cabai di ladangnya. foto:omdik_Kanalindonesia.com

“Sudah tiga tahun terakhir ini, petani cabai di Desa Tebluru selalu was-was saat tanamannya mulai berbunga bahkan berbuah. Hama Patek, mati layu dan kriting selalu mengintai. Segal acara sudah dilakukan, namun hama tersebut semakin menjadi-jadi.” Terang Hamtoro.

Lebih lanjut Hamtoro mengatakan serangan hama patek langsung menyerang pada bagian buah. Sehingga cabai langsung membusuk sampai tak ada bagian yang bisa dimanfaatkan. Padahal tanaman yang terserang hama patek rata-rata sudah memasuki masa panen. Akibat serangan hama patek, para petani mengalami kerugian besar karena hasil panen terancam menurun.

“Ini tentu saja merupakan kerugian yang sangat besar bagi kami. Apalagi saat ini harga cabai masih terbilang tinggi. Seharusnya kami menuai keuntungan dari hasil penjualan cabai, akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya,” ujarnya.

Baca:  BPCB Jatim Beri Rekomendasi Untuk Angkat Perahu Baja dari Bengawan Solo

Disinggung soal perhatian pemerintah melalui dinas terkait, dia mengaku tidak ada perhatian selama ini. Padahal wilayah Kecamatan Solokuro terutama Desa Dadapan, Tenggulun dan Tebluru merupakan desa penghasil cabai yang besar di wilayah Kecamatan Solokuro disamping desa lainnya.(omdik)