Buronan Kasus Kepabeanan Crisna Palupi Saraswati Ditangkap Kejari Tanjung Perak di Kota Malang

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Tim tangkap buron (Tabur) dari Kejari Tanjung Perak Surabaya kembali mengeksekusi seorang terpidana kasus tindak pidana Kepabeanan. Dia adalah Crisna Palupi Saraswati.

Kasi Pidsus Kejari Tanjung Perak, M. Ali Riza menjelaskan, terpidana Crisna Palupi Saraswati ditangkap oleh Tim Tabur Pidana Khusus Kejari Tanjung Perak di Kota Malang.

Riza mengaku, pihaknya sempat mengalami kesulitan saat hendak melakukan penangkapan terhadap Crisna Palupi Saraswati. Pasalnya Crisna Palupi Saraswati yang sudah ditetapkan dalam daftar pencarian prang (DPO) ini selalu berpindah-pindah tempat ketika akan ditangkap.

“Tim Pidsus sempat kesulitan untuk mengeksekusi Terpidana dikarenakan Terpidana berpindah domisili yang awalnya di Surabaya, namun berdasarkan informasi yang diperoleh Tim Pidsus di lapangan didapatkan info bahwa Terpidana sudah pindah domisili di kota Malang,” kata Ali Riza dikutip Kanalindonesia.com, Rabu (27/1/2021).

Namun untuk lebih memastikan kebenaran informasi tersebut, Rizza sapaan Kasi Pidsus Kejari Tanjung Perak yang memimpin penangkapan ini melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat serta jajaran kepolisian hingga tokoh masyarakat.

Hasilnya Crisna Palupi Saraswati yang dinyatakan bersalah sejak 2012 lalu dinyatakan berdomisili di Kota Malang.

“Setelah berkordinasi dengan Dinas Dukcapil kota Malang, Tim Pidsus berhasil menemukan keberadaan Terpidana dan dalam pelaksanaan eksekusi, Tim Pidsus didampingi anggota Polri dan Ketua RT setempat dan Terpidana bersikap kooperatif,” ungkapnya

Penangkapan terpidana tindak pidana Kepabeanan, Crisna Palupi Saraswati lanjut Rizza merujuk dari hasil putusan Mahkamah Agung (MA) yang berkekuatan hukum tetap atau incraht.

“Terpidana dinyatakan bersalah berdasarkan putusan Mahkamah Agung No.2077 K/Pid.sus/2012 dengan pidana penjara selama 2 tahun dan denda Rp. 100.000.000,- subsider 3 bulan kurungan,” paparnya.

Dalam kasus ini, menurut Rizza tak hanya terpidana Crisna Palupi Saraswati saja yang terlibat, namun ada terpidana lainnya, tetapi sebelumnya telah dilakukan eksekusi yakni Zulhaeri Harahap.

“Terpidana dinyatakan bersalah bersama-sama dengan Terpidana Zulhaeri Harahap (sudah dieksekusi) memberikan keterangan tertulis yang tidak benar dan digunakan untuk pemenuhan kewajiban kepabeanan,” ujarnya.

Usai dieksekusi di Kota Malang, terpidana Crisna Palupi Saraswati langsung dikeler ke Surabaya untuk dititipkan ke rutan yang ada di Korps Adhyakasa yang berkantor di jalan Ahmad Yani.

“Selanjutnya Terpidana dititipkan di Cabang Rutan Kelas I Surabaya di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur,” pungkasnya.

Diketahui, penangkapan Crisna Palupi Saraswati ini merupakan pengembangan dari penangkapan bosnya yakni Zulheri Harahap pada Kamis (5/11/2020) di Jalan Taman Vancouver J-4 No.6 Perum Suri Surya Jaya, Kelurahan Ketajan, Kecamatan Gedangan Sidoarjo.

Crisna Palupi Saraswati dan Zulheri Harahap merupakan terpidana kasus kepabeanan. Keduanya memberikan keterangan tertulis yang tidak benar pada sebuah dokumen dan digunakan untuk pemenuhan kewajiban kepabeanan.

Dalam perjalanan kasusnya Crisna dan Zulheri divonis 2 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya namun keduanya mengajukan banding dan diputus bebas oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi Surabaya.

Tak terima dengan putusan bebas tersebut, jaksa penuntut umum akhirnya mengajukan kasasi di Mahkamah Agung dan putusannya membatalkan putusan banding majelis hakim Pengadilan Tinggi Surabaya. Ady