Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bantah Dukung Kemasan Galon Sekali Pakai

Ujang Solihin Sidik, Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan KLHK, dalam acara diskusi media “Tantangan dan Tentangan Sampah Plastik” yang diselenggarakan webinar zoom  oleh Forum Jurnalis Online, di Jakarta, Kamis (28/1/2021).

JAKARTA, KANALINDONESIA: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membantah pernyataan yang disampaikan salah satu produsen kemasan galon sekali pakai yang mengatakan telah mendapat persetujuan dari KLHK.

“Justru KLHK lebih mendukung keberadaan galon guna ulang yang lebih ramah lingkungan,” ungkap Ujang Solihin Sidik, Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan KLHK, dalam acara diskusi media “Tantangan dan Tentangan Sampah Plastik” yang diselenggarakan webinar zoom  oleh Forum Jurnalis Online, di Jakarta, Kamis (28/1/2021).

“Setahu saya, KLHK tidak mengeluarkan pernyataan resmi maupun dokumen resmi yang menyatakan mendukung galon sekali pakai. Ini perlu diklarifikasi. Coba tanyakan ke pembuat pernyataan itu apakah ada dokumennya, mana dokumennya. Itu saja sih menurut saya,” jelasnya.

Baca:  Kasad Membuka Latihan Pertempuran Hutan Di Lembang Jawa Barat.

Berkali-kali dia menegaskan bahwa di Subdirektorat Barang dan Kemasan KLHK yang memang sehari-harinya mengurusi masalah pengelolaan sampah, belum pernah mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap kemasan galon sekali pakai.

Presentasi Ujang Solihin Sidik, Kepala Subdirektorat Barang dan Kemasan KLHK, dalam acara diskusi media “Tantangan dan Tentangan Sampah Plastik” yang diselenggarakan webinar zoom  oleh Forum Jurnalis Online, di Jakarta, Kamis (28/1/2021).

“Ya ini memang sempat ramai, sampai hari ini juga masih ramai isunya terkait dengan galon sekali pakai ini. Saya ingin klarifikasi dulu, setahu saya yang kebetulan saya sendiri sehari-hari ngurusi soal itu, kemasan makanan, minuman, itulah pekerjaan saya. Justru yang terakhir kami diskusikan waktu itu, pertama keluar pasti akan ramai,” tuturnya.

Karena, menurut Uso, sapaan akrab Ujang Solihin, kalau dilihat dari Permen KLHK No.75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah, justru yang didorong itu adalah soal pembatasan, meredesain kemasan agar kemasan yang tadinya tidak bisa didaur ulang harus bisa didaur ulang. Yang tadinya tidak bisa diguna ulang harus bisa diguna ulang.

Baca:  Gandeng Komunitas Otomotif DCAB-ID dan JKOne, Dankodiklatad Gelar Bhakti Sosial

“Yang tadinya sudah didaur ulang diubah menjadi guna ulang, itu lebih bagus. Karena, justru guna ulang itu posisinya lebih tinggi kan hierarkinya daripada daur ulang,” katanya.

Menurutnya, KLHK justru mendorong produsen melalui Permen No.75 tahun 2019 harus membangun dan mendesain kemasan itu yang paling baik dari sisi lingkungan, dan itu adalah guna ulang.

Dia mengatakan bahwa berbicara pengelolaan sampah berkelanjutan itu tetap harus melihat hierarkinya, yaitu 3R atau Reduce, Reuse, Recycle.

“Daur ulang betul, tetapi faktanya daur ulang kan bukan persoalan mudah, butuh teknologi, butuh uang, butuh efford yang banyak. Kalau dibandingkan dengan guna ulang, guna ulang itu efford-nya sedikit dibandingkan daur ulang. Guna ulang itu kan hanya tinggal ditarik lagi, contohnya galon, galon kan bisa ditarik lagi oleh produsennya, dicuci dan dibersihkan dan lalu dipasarkan lagi. Itu kan bisa sampai 30-50 kali, sampai masa kemasan selesai baru kemudian didaur ulang,” kata Uso. @Rudi

Baca:  Kunik Bunuh Diri Karena Tak Kuat Tanggung Beban