Ikhlas dan Memikirkan Orang Lain, dalam Kenangan Satu Tahun Kepergian Gus Sholah

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Satu tahun kepergian K.H Salahuddin Wahid, banyak tinggalkan kenangan serta ilmu serta belajar ikhlas dan selalu memikirkan orang lain. Begitulah pesan yang disampaikan KH Abdul Hakim Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Pesan tersebut ia sampaikan, dalam rangka memperingati satu tahun meninggalnya Gus Sholah. Bertempat di PP Tebuireng, kegiatan tersebut dikemas dalam launching dan bedah buku secara online, pada Selasa (2/2/2021).

“Gus Sholah ini inspirasi dan contoh teladan yang harus kita lanjutkan. Bagi saya, di pesantren ini banyak hal yang dirintis beliau hingga akhir hayat. Tanpa berpikir untuk diri sendiri. Soal keikhlasan,” ucapnya.

Sosok Gus Sholah, bagi pria yang akrab disapa Gus Kikin ini, memiliki kepribadian yang mengamalkan ilmu agama dengan baik, tanpa berpikir mendapatkan untung rugi.

Baca:  Lestarikan Warisan leluhur, Desa Sendangagung Lamongan Gelar Festival Batik 2018

“Jika baik, maka dilakukan saja,” katanya menambahkan.

Sementara, kegiatan yang dikemas dengan launching dan bedah buku berjudul ‘Gus Sholah: Sang arsitek pemersatu umat’ ini, bisa dijadikan pengetahuan baru bagi semua kalangan yang ingin mengenal sosok Gus Sholah lebih dalam.

“Buku baru tentang Gus Sholah ini bisa menjadi rujukan bagi setiap individu yang ingin lebih jauh mengenal sosok Gus Sholah dari berbagai sisi,” terangnya.

Gus Kikin menegaskan, apa yang sudah dibangun dan diberikan Gus Sholah, akan menjadi tugas nya untuk meneruskan perjuangan.

“Saya melanjutkan apa yang sudah beliau lakukan. Suatu fondasi yang harus dilanjutkan oleh seluruh keluarga besar KH Muhammad Hasyim Asy’ari,” tukasnya.

Baca:  Bekuk Pengedar Pil di Jombang, Polisi Amankan Ratusan Butir Pil Dobel L

Syaifullah Maksum, si penulis buku yang juga hadir menyebut, isi dari buku berjudul ‘Gus Sholah: Sang Arsitek Pemersatu Umat’, ini menekankan sisi lain dari almarhum yang belum diketahui banyak orang.

“Buku ini jujur. Hal yang ditampilkan dalam buku tersebut yaitu seperti kurang moncernya karier Gus Sholah dalam politik kekuasaan di Indonesia,” paparnya.

Maksum juga menanbahkan Gus Sholah pernah terlibat langsung dalam pesta demokrasi lima tahunan kala itu, yaitu pemilihan wakil presiden.

“Beliau pernah terlibat, waktu itu nyalon wakil presiden berpasangan dengan Jendral Wiranto dari Golkar. Namun sayang waktu itu kalah dari SBY – JK pada tahun 2004-2009,” bebernya.

Dalam buku tersebut, juga di jelaskan perubahan sikap Gus Sholah yang awalnya elitis, berubah lebih memasyarakat. Itu dikarenakan, Gus Sholah yang dulunya arsitek banyak bergaul dengan kaum menengah ke atas.

Baca:  Kapolres BangkalanTinjau Pendirian Posko Banjir di Kecamatan Arosbaya

“Perubahan Sikap beliau dirasakan sampai akhir hayat, wafat. Lebih mementingkan masyarakat,” pungkasnya.(GIT)