Kasus Asusila Santri oleh Kiai di Jombang, Kemenag: Pondok Tidak Terdata, Pernah Terjadi Juga Tahun 2015

JOMBANG, KANALINDONESIA.COM: Merespon kasus asusila oknum Kiai di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Ngoro, Jombang. Kementrian Agama (Kemenag) Jombang, sebut pondok tidak terdata dan kasus serupa pernah terjadi tahun 2015.

Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kemenag Jombang, Leksono lewat keterangan tertulis. Didalamnya, pihak Kemenag Jombang menyampaikan, pondok yang berada di Dusun Sedati, Desa Kauman itu tidak terdata bahkan tidak pernah mengajukan izin pendirian pondok ke Kemenag Jombang.

“Dilokasi juga tidak ada plakat, identitas atau papan nama. Juga Kepala Desa (Kades) Kauman tidak mengetahui kapan berdiri dan beroperasinya pondok tersebut,” ucap Leksono dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan pada Kamis (18/2/2021).

Baca:  Kap Lampu Batang Singkong, Antar 3 Siswa MA Di Lamongan Menjadi Runner Up EIC Se Jawa-Bali

Fakta ini kemudian diketahui setelah Kemenag Jombang melakukan investigasi. Tak hanya itu, pada tahun 2015 pernah terjadi hal serupa, kasus asusila terhadap santri.

“Menurut Kades Kauman, waktu itu kasus tersebut diselesaikan di tingkat desa. Hingga akhirnya pondok sempat ditutup dan Kiainya (Subhan) pulang ke tempat asalnya di Demak, karena dia memang pendatang dan menikah dengan orang Kauman,” jelasnya.

Pondok tersebut, diketahui memiliki kurang lebih 150 santri. Dimana para santri tersebut mempelajari kitab salaf dan hapalan Qur’an. Setelah kasus asusila ini menyeruak ke permukaan, pondok seketika ramai didatangi wali santri yang ingin menjemput anaknya.

“Setelah kasus terungkap ke media, banyak wali santri yang menjemput anaknya. Yang masih bertahan ada sekitar 9 santri putra dan 4 santri putri,” terangnya.

Baca:  Jelang Pemilu 2019 Polres Lamongan Gelar Pasukan Operasi Mantap Brata 2018, Ribuan Pasukan Dilibatkan

Saat ini kasus asusila yang kembali terjadi dengan korban para santri, sedang ditangani Polres Jombang. Kiai S sendiri saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus asusila, pencabulan dan persetubuhan anak dibawah umur.(GIT)