Ancam dan Peras Korban Senilai Rp19,4Juta, Dua Oknum LSM di Sampang Resmi Tersangka

SAMPANG, KANALINDONESIA.COM: Dua oknum LSM Sampang yang diamankan oleh Tim Satreskrim Polres Sampang kini resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pemerasan. Dua pelaku itu bernama Riski (42), warga Desa Aeng Sareh, Kota Sampang dan Amir Hamzah (38), warga Jalan Pahlawan, Sampang.

Kapolres Sampang, AKBP Abdul Hafidz menjelaskan, kedua pelaku ini diamankan lantaran telah melakukan pemerasan terhadap korban atas nama Asbi (32), warga Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan terkait pelaksanaan proyek Pokmas.

“Dari tangan keduanya, kami mengamankan uang tunai hasil pemerasan (milik korban) sebanyak Rp.19.400.000,- (sembilan belas juta empat ratus ribu),” terang Kapolres AKBP Abdul Hafidz dikutip Kanalindonesia.com di Mapolres Sampang, Selasa (23/2/2021).

Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan dari korban yang diancam dan diperas oleh kedua pelaku. Dengan mengantongi keterangan korban, lalu polisi langsung menyelidiki dan menangkap para pelaku yang merupakan oknum LSM.

Kapolres AKBP Abdul Hafidz memaparkan saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan kartu identitas milik kedua pelaku (Riski dan Amir Hamzah).

“Kami temukan kartu identitas mereka yang tak lain sebagai oknum LSM Badan Pemantau Penyelenggara Pemerintahan Republik Indonesia (BP3RI) dan LSM Komunitas Pengawas Korupsi (KPK) RI,” imbuhnya.

Masih kata Hafidz, selain uang tunai sebanyak Rp19,4 juta, pihaknya juga menyita sejumlah barang bukti. Seperti 4 (empat) karti LSM milik Riski, 1 (satu) LSM milik Amir Hamzah, 1 (satu) unit HP iPhone XS, 1 (satu) unit HP Vivo, 1 (satu) HP Nokia serta bukti percakapan WhatsApp antara korban dengan kedua pelaku.

“Pasal yang kami sangkakan ialah dengan Pasal 368 ayat 1 Jo. Pasal 55 ayat 1 KUHP tentang tindak pidana pemerasan. Ancaman hukuman 9 tahun penjara,” tandas Hafidz.

Dikesempatan yang sama, Kasat Reskrim Polres Sampang AKP Riki Donaire Piliang menjelaskan kronologi penangkapan tersangka.

Berawal pada Sabtu (13/2), korban mendapat informasi jika pengerjaan proyek Pokmas irigasi pada tahun 2019 didatangi oleh tersangka.

Saat itu, korban mencoba berkomunikasi dengan tersangka agar hasil temuannya tidak perlu panjang lebar serta tidak menghubungi Ketua Pokmas.

“Terjadilah komunikasi antara korban dengan tersangka, bahkan korban diancam pengerjaan proyek itu mau dilaporkan ke pihak berwenang,” jelas Riki.

Menurut Riki, apabila persoalan tersebut tidak mau dilaporkan maka korban harus menyerahkan uang sebesar Rp 100 juta. Atas ancaman itu korban merasa takut terancam dan diperas.

Kemudian, pada pukul 22.00 WIB Sabtu (20/2) malam korban menemui ajakan tersangka bertemu di sebuah cafe di Jalan Makboel.

Saat pertemuan, korban meminta didampingi petugas kepolisian agar tidak terjadi sesuatu. Setelah uang diterima, dua tersangka turut diamankan beserta uang tunai Rp 19,4 juta.

“Korban diminta uang Rp 100 juta tapi tidak mau hingga akhirnya deal negosiasi sampai Rp 40 juta, namun saat pertemuan korban hanya membawa uang Rp 19,4 juta dan sisanya mau dibayarkan keesokan harinya,” tuturnya. Ady