Melihat Bersama Hadirkan Pameran Foto Karya Anak Liponsos Kalijudan Surabaya

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Melihat teman-teman Disabilitas Berkarya seperti meneguhkan keyakinan kami bahwa fotografi itu bukan monopoli satu kelompok, semua bisa bersenang-senang dan mendapatkan pengalaman yang berbeda dalam melihat dunia.

Pertemuan dengan karya-karya mereka pertama kali kami lihat di IG Disabilitas Berkarya dan karya-karya yang dihasilkan sungguh mengagetkan dan menumbuhkan decak kagum. Bukan tanpa alasan memang,  karya-karya tersebut menampilkan visual yang bersifat personal dan berani.

Kelima orang dari Disabilitas Berkarya  merupakan penghuni Lingkungan Pondok Sosial Kalijudan, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Sebuah tempat yang dibangun Pemerintah Kota Surabaya  bagi anak-anak yang terlantar. Dari kelimanya, satu penyandang down syndrome dan empat penyandang bisu tuli.

Baca:  Persiapkan Mahasiswa Yang Militan, HMI Komisariat Ekonomi Unesa Gelar Maperca

Sejumlah program pemberdayaan dilakukan agar mereka mempunyai pengetahuan agar kelak bisa digunakan saat kembali ke masyarakat. Program tersebut salah satunya yaitu fotografi.

Bersama Arief Budiman atau akrab di panggil Leo, belajar fotografi dimulai berlangsung sejak 2016. Bermula dari keingintahuan anak-anak saat melihat kamera, Leo pun kemudian berinisiatif untuk memperkenalkan lebih dalam lagi fotografi. Perjalanan yang tidak mudah tentunya. Selain kendala bahasa, juga keterbatasan alat.

Namun pembuktian diri teman-teman Disabilitas Berkarya membuat banyak pihak menyumbangkan kamera.

Jika dalam karya seni yang patut dinilai adalah dari hasil akhirnya, bukan siapa yang membuatnya, tentu karya tersebut mempunyai nilai yang sangat tinggi sama dengan siapapun yang mendeklarasikan dirinya seorang fotografer. Kami pun menjauhkan diri dari intervensi kepada karya-karya mereka, termasuk upaya memberikan judul pada tiap foto. Dalam konteks proses berkarya, imaji-imaji yang ditawarkan justru melampaui sekat-sekat judul foto.

Baca:  Soal Kasus Dugaan Pencabulan di Jombang, Ketua KPA Aris Merdeka Sirait Sebut Pelapor Sudah Dewasa

“Cerita Kami” yang kemudian jadi penanda pameran, justru hadir dari keluwesan interpretasi dari apa yang akan mereka sampaikan, dari foto-foto tersebut, kita dibebaskan memberi arti untuk kemudian diajak berkeliling di dunia mereka yang sepi namun penuh warna.

Penyandang disabilitas juga butuh ruang untuk diapresiasi, untuk itulah kami dari Melihat Bersama dengan tangan terbuka mengajak mereka untuk  datang mewarnai dinding-dinding galeri maya yang kami miliki di www.melihatbersama.com dengan foto-foto yang mereka hasilkan.

Selain sebagai tempat mereka unjuk diri, ruang ini juga kami dedikasikan kepada sang guru yaitu mas Arief Budiman dan siapapun yang terlibat di dalamnya yang telah membawa energi dan positif melalui fotografi bagi mereka para Disabilitas Berkarya.

Baca:  Workshop Entrepreneure Universitas Widya Kartika

Kami harap, semangat itu akan memberikan energi postif pula bagi kita semua yang melihat untuk memberi ruang dan dukungan bagi siapa saja yang memerlukannya.
Pameran diisi oleh 42 karya dan akan berlangsung hingga 31 Maret.