Kasus Salah Transfer, Ardi Pratama Akui Kesalahannya

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Persidangan kasus salah transfer dari Bank BCA Citraland Surabaya, dengan terdakwa Ardi Pratama mulai dikebut majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Mengingat masa penahanannya terhadap terhadap Ardi Pratama akan habis.

Pantauan dilokasi, sidang digelar secara daring di ruang Candra PN Surabaya ini seharusnya beragendakan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Willy Pramana, majelis hakim melanjutkan dengan keterangan keterangan terdakwa.

Dua saksi tersebut ialah Bani Andri Rustanto, rekan bisnis terdakwa dalam jual beli mobil dan Halimah, ibu kandung terdakwa. Dihadapan hakim ketua Johanes Hehamony, keduanya memberikan kesaksian soal kasus yang menyeret terdakwa.

Saksi Bani Andri Rustanto mengaku bahwa dirinya selama bekerjasama (jual beli mobil mewah) dengan terdakwa Ardi Pratama tidak pernah menerima fee dari hasil penjualan tersebut non tunai atau transfer, melainkan secara langsung.

“Komisi dari penjualan mobil dibagi dua, dan selalu tunai yang mulia,” ucap Bani dipersidangan, Selasa (16/3/2021).

Sedangkan Halimah saat bersaksi dalam sidang putranya ini sempat membayarkan uang senilai Rp51 juta namun ditolak oleh pihak Bank BCA Citraland.

Kata saksi, disana ketika hendak menyerahkan uang itu, pihak Bank BCA mengatakan sudah tidak ada kaitannya dengan terdakwa.

“(Katanya) ihak Bank-nya sekarang sudah tidak ada masalah dengan terdakwa. Padahal waktu itu saya mau membayarkan, tapi ditolak,” ujar Halimah.

Usai mendengarkan keterangan dua saksi, hakim meminta JPU Willy untuk melanjutkan persidangan dengan keterangan terdakwa. Dihadapan hakim dan JPU, terdakwa pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.

Berkelit pun terlihat pada saat terdakwa Ardi Pratama menjawab pertanyaan yang dilontarkan majelis hakim dan JPU. Jawaban berkelit nampak soal sisa uang yang ada dalam ATM, setelah menerima uang salah transfer tersebut.

Ardi mengaku dirinya menyisahkan uang dari salah transfer di atm-nya. Lalu Ardi merasa tidak punya Mobile Banking untuk mengetahui darimana asal uang yang dia terima pada saat itu.

“Tidak habis pak, (di atm) masih ada Rp5 juta. Saya tidak punya Mobile Banking pak, hanya internet banking saja,” jawab Ardi Pratama.

Ardi mengklaim uang yang ada di ATM itu adalah hasil komisi dari penjualan mobil merk Toyota Alphard. Padahal saksi Bani Andri Rustanto mengaku terakhir kali memberikan komisi sebesar Rp5 juta di bulan Maret 2020 lalu.

Dari sinilah baru diketahui jika terdakwa sudah tidak pernah lagi menerima komisi dari pihak manapun, namun terdakwa tetap bersikukuh jika uang salah transfer itu merupakan uang komisi dari penjualan mobil.

“Saudara tetap merasa ini yang komisi ya. Saudara boleh mempertahankan pendapat saudara, tapi unsur pidana ini adalah soal tempus. Uang dalam rekening habis dalam sehari,” kata hakim Johanes Hehamony saat pemeriksaan terdakwa.

Tak lama kemudian, terdakwa Ardi Pratama pun mengaku bersalah dan meminta maaf. Ia pun masih sanggup untuk membayar dana salah transfer itu dengan cara mengangsur.

“Iya saya memang bersalah,” pungkas terdakwa Ardi Pratama diakhir persidangan.

Usai persidangan, Jaksa I Gede Willy Pramana mengatakan, pengakuan bersalah terdakwa Ardi Pratama saat didengarkan keterangan semakin menguatkan surat dakwaannya terkait unsur Pasal 85 UU No 3/2011 tentang transfer dana telah terbukti.

“Dalam teorinya disebut delik pro parte dolus pro parte colpus, tidak perlu terdakwa mengetahui secara keseluruhan, cukup terdakwa dapat menduga uang itu bukan merupakan hak dari terdakwa maka unsur tersebut telah terpenuhi, terlebih lagi jika terdakwa mengetahui dan menghendaki, maka terpenuhi opzet tindak pidananya,” kata jaksa yang akrab disapa Willy.

Sementara itu Hendrik Kurniawan selaku penasehat hukum terdakwa Ardi Pratama meyakini kliennya tidak bersalah.

“Dimana salahnya, apakah orang yang mengambil uang dari rekeningnya sendiri dapat disalahkan,” tandas Hendrik.

Untuk diketahui, persidangan kasus salah transfer ini akan kembali dilanjutkan pada Kamis (18/3) dengan agenda pembacaan surat tuntutan dari jaksa I Gede Willy Pramana.

Kasus ini bermula saat terdakwa Ardi Pratama mendapatkan transfer masuk uang sebesar Rp 51 juta ke rekeningnya pada Maret 2020. Ardi menyangka uang itu adalah hasil komisinya sebagai makelar mobil mewah.

10 hari berselang, rumah Ardi di Manukan, Surabaya didatangai oleh dua orang pegawai BCA Catur Ida dan Nur Chuzaimah. Mereka mengatakan bahwa uang senilai Rp 51 juta itu telah salah transfer dan masuk ke rekening Ardi.

Sayangnya uang itu terlanjur terpakai Ardi. Seorang pegawai BCA, Nur Chuzaimah kemudian melaporkan Ardi Pratama pada Agustus 2020.

Lalu pada November 2020, Ardi Pratama ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dengan tuduhan Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011. Ady