Sidang Kasus Salah Transfer, Ardi Pratama Dituntut Dua Tahun Penjara

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Dinilai bersalah melanggar Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana, Ardi Pratama yang diadili soal kasus salah transfer uang Rp51 juta ditutut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) selama dua tahun penjara, Rabu (24/3/2021).

Dalam persidangan yang digelar secara daring di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, JPU Zulfikar dari Kejari Tanjung Perak menjelaskan, dana hasil salah transfer sebesar Rp51 juta oleh mantan pegawai Bank BCA ini digunakan terdakwa untuk membeli keperluan sehari-hari hingga membayar utang.

“Pertimbangan yang memberatkan, terdakwa sudah menikmati uang kesalahan transfer tersebut dan terdakwa berbelit-belit selama persidangan. Sementara hal yang meringankan, terdakwa masih berusia muda dan belum pernah dihukum,” terang Zulfikar saat membacakan tuntutannya, (24/3).

Terkait tuntutan jaksa tersebut, Ardi melalui tim kuasa hukumnya akan mengajukan pembelaan.

“Kami ajukan pleidoi atau pembelaan pada sidang pekan depan,” kata kuasa hukum Ardi, Dipertius.

Kasus ini bermula saat terdakwa Ardi Pratama mendapatkan transfer masuk uang sebesar Rp 51 juta ke rekeningnya pada Maret 2020. Ardi menyangka uang itu adalah hasil komisinya sebagai makelar mobil mewah.

10 hari berselang, rumah Ardi di Manukan, Surabaya didatangai oleh dua orang pegawai BCA Catur Ida dan Nur Chuzaimah. Mereka mengatakan bahwa uang senilai Rp 51 juta itu telah salah transfer dan masuk ke rekening Ardi.

Sayangnya uang itu terlanjur terpakai Ardi. Seorang pegawai BCA, Nur Chuzaimah kemudian melaporkan Ardi Pratama pada Agustus 2020.

Lalu pada November 2020, Ardi Pratama ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dengan tuduhan Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011. Ady