Dilepas, Ditresnarkoba Polda Jatim Diduga Suruh Penjual Jamu Setoran Tiap Bulan

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Pelepasan pelaku kasus jamu tak berizin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diduga dilakukan anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Jatim.

Selain itu, oknum Ditresnarkoba Polda Jatim juga diduga peras Siswoyo, distributor jamu milik CV Sumber Waras Nusantara sebear Rp200 juta. Dengan dalil agar kasus itu tidak berlanjut.

Menurutnya, sejak awal penangkapan, banyak kejanggalan yang ia alami. Mulai dari penangkapan dirinya di Gresik yang tanpa membawa surat tugas. Mulai dari surat perintah penahanan (Sprinhan) dan surat perintah penangkapan (Sprinkap).

Bahkan, pemeriksaan yang dilakukan di rumah dinas salah satu petinggi Polda Jatim. Ia ditangkap Selasa (23/3) lalu. Sejak saat itu ia berada di rumah dinas tadi. Dalam pemeriksaan pertama, tuduhan yang diberikan ialah dirinya melakukan Home Industri.

“Tuduhan pertama itu tidak terbukti bersalah. Memang ada beberapa lebel jamu dengan produk yang sama. Namun, itu untuk mengganti kalau saja ada lebel yang telah ditempel mengalami kerusakan,” kata Siswoyo saat ditemui di rumah makan beberapa waktu lalu.

Saat di rumah dinas tersebut, menurutnya itu merupakan penyekapan. Lantaran, semua alat komunikasinya diambil. Tidak boleh menghubungi orang lain terkecuali pemilik jamu tersebut. Bahkan, saat itu ia tidak diberikan makanan dan minuman.

Setelah tuduhan pertama tidak terbukti, ia kembali melakukan pemeriksaan. Dengan tuduhan jamu tersebut tidak memiliki BPOM. Padahal, manajemen pabrik jamu tersebut sudah mengantongi izin. Malah, ia mengakui kalau setiap bulan pemilik usaha jamu ini memberikan atensi kepada Polda Jatim.

“Setahu saya, itu pabrik sudah mengantongi izin. Surat-suratnya ada semua. Mulai dari badan usaha dan administrasi lainnya. Ada juga atensi ke aparat senilai Rp 10 juta tiap bulan. Tapi skarang saya yang malah ditangkap,” ungkapnya.

Pemeriksaan kedua baru saya dibawa ke ruang pemeriksaan. Polisi yang melakukan penyidikan juga berubah. Tekanannya tidak seperti diawal.

“Agak longgar lah yang kedua. Setelah itu saya langsung diberikan surat untuk ditandatangan,” tambahnya lagi.

Kamis (25/3) lalu, dirinya dilepas. Ia disuruh untuk mencari uang Rp 200 juta yang diminta tadi. Sehingga, kasus tersebut dihentikan.

“Saya disuruh cari uang. Tapi, saya sering banget ditelepon. Seperti tahanan yang wajib melapor,” celetuknya.

Diwaktu yang berbeda, Humas Paguyupan Jamu di Banyuwangi Anang mempertanyakan kasus tersebut. Di satu sisi, ia mendukung program 100 hari kinerja Kapolri. Namun dengan kasus tersebut, ini mencederai nama institusi.

“Kapolri pernah bilang kalau kegiatan Kepolisian tidak boleh menghambat kreativitas UMKM. Bahkan, Kapolri juga mau memperbaiki citra kepolisian. Agar tidak ada lagi potensi menyalahgunakan wewenang. Tapi, ini kok malah mendapat kasus seperti ini,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Replik Handoko saat dikonfirmasi Senin (5/4) malam, memastikan bahwa kasus itu masih tetap dalam proses penyidikan.

“Tetap disidik. Tidak ada yang disembunyikan. Kasus ini tetap jalan,” tegasnya.

Terkait nominal uang Rp 200 juta itu, perwira melati dua ini mengungkapkan, kalau pengusaha jamu itu yang mencoba menyuap petugas.

“Dengan tegas, kami pasti tolak tawaran itu,” tegasnya. Ady/Red