Ulama Dari Surabaya, Madura dan Tapal Kuda Laporkan Yutuber ke Polda Jatim, Soal Konten Penistaan Agama

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Sejumlah para ulama tergabung dari Aliansi Ulama Surabaya (Aura), Aliansi Ulama Madura (Auma) dan Aliansi Ulama Tapal Kuda (Autada) mendatangi SPKT Mapolda Jatim untuk melaporkan Mohammad Kace Murtadin, dalam kasus penistaan agama melalui video konten di media sosial YouTube, pada Senin sore (12/4/2021).

KH. Muhammad Jaiz Badri, selaku juru bicara dari para ulama di Surabaya, Madura dan Tapal Kuda mengatakan, Mohammad Kace pernah dilaporkan pada tahun 2019. Untuk motifnya, hanya untuk mencari sensasi.

“Dia (M. Kace) ini pernah dilaporkan tapi tidak jerah. Kalau untuk motifnya ya dia hanya ingin mencari sensai, dengan membuat membuat konten menghina agama seseorang, agar bisa mengais pundi-pundi dari YouTube dan satu lagi, yakni ingin terkenal,” ujarnya kepada awak media di Mapolda Jatim.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko membenarkan terkait pelaporan yang dilakukan para ulama terhadap seorang yutuber diduga berbau SARA di Mapolda Jatim.

“Benar, beliau sudah membuat laporan di SPKT Polda Jatim dan akan ditindaklanjuti laporannya,” kata Gatot saat dikonfirmasi Kanalindonesia.com, Rabu (14/4/2021).

Pantauan dilokasi, pada saat mendatangi SPKT Polda Jatim, KH Ali Badri Zaini, seorang tokoh ulama Madura yang berdomisili di Jalan Bendul Merisi, Wonokromo Surabaya ini juga tampak mendampingi para ulama.

Rombongan yang menggunakan 8 mobil pribadi ini tiba di Mapolda Jatim sekitar pukul 14.20 WIB. Proses pelaporan pun berlangsung hampir satu jam.

KH. Ali Badri Zaini melalui KH. Muhammad Jaiz Badri sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh seorang yutuber berasal dari Jawa Barat ini yang ingin numpang tenar, tapi dengan cara yang salah.

Seperti diketahui, dari video berdurasi 02.07 menit yang beredar di YouTube berisikan M. Kace Murtadin mengomentari terkait ajaran agama islam, serta pengertian dari isi kitab kuning (pegangan santri) di Pondok Pesantren dan menistakan Nabi Muhammad.

“Caranya (mencari sensasi) itu lho seharusnya yang positif. Bukannya malah mengandung hate speech, ujaran kebencian, menjelekkan ajaran agama, menista kitab kuning, apalagi menista ulama dan panutan Islam, yaitu Muhammad SAW, sangat kami sayangkan sekali,” katanya.

Kendati, Lanjut Jaiz Badri sekaligus pengasuh Ponpes Nurul Islam, Situbondo juga menegaskan, dengan adanya laporan dari para ulama, kiai, santri di Ponpes se Indonesia bisa lebih memudahkan pihak kepolisian menindak tegas dan menangkap yang terkait.

“Kami percaya kepada bapak Kapolda Jatim akan melakukan (memproses hukum) dengan cepat. Karena kami tidak akan bertanggungjawab atas tindakan lebih yang bisa terjadi dan bisa saja dilakukan oleh saudara kami. Bahkan dikhawatirkan melakukan tindakan main hakim sendiri,” tegas Kiai Jaiz ini.

Sejauh ini, dalam kasus pelaporan berdasarkan sejumlah barang bukti yang disertakan. Mulai dari bukti rekaman dari laman Website, copy video dan isi ucapan hate speech kepada umat islam berbau SARA sudah diberikan ke polisi. Ady