Entah Sampai Kapan Perahu Penyeberangan di Babat Lamongan Ini Bertahan

(Perahu Penyebrangan di Sungai Bengawan Solo Banaran Kec. Babat)

LAMONGAN, KANALINDONESIA.COM; Penyeberangan perahu sungai Bengawan Solo, di kelurahan Banaran kecamatan Babat, kabupaten Lamongan Jawa Timur ini keberadaannya sudah berpuluh puluh tahun hingga sekarang.

Penyebranagan yang melintasi sungai terpanjang di pulau Jawa ini menghubungkan dua kabupaten Tuban dan Lamongan. Sebelah sisi utara adalah dusun Kandangan desa Ngadipuro kecamatan Widang kabupaten Tuban sedangkan sebelah selatan masuk keluaran Banaran kecamatan Babat kabupaten Lamongan.

(Warga Penarik Perahu di Sungai Bengawan Solo)

Tapi kini keberadaanyannya tidak seramai dulu, perahu yang beroperasi hanya tinggal 4 saja. Itupun digilir pembagian waktunya.

“Ya karena sepi, sudah jarang orang nambang perahu lagi,” ujar Mbah Marwan. sambil duduk santai di atas perahunya berbincang dengan kanalindonesia, Senin (19/4/2021).

Baca:  Kekeringan Landa Pacitan, Polres Pacitan Bantu Pembangunan Penampungan Air Besrsih di Dusun Bedayu, Desa Bolosinggo

Lelaki paruh baya asal desa Kalisari Baureno yang setia hingga kini untuk menyebrangkan orang dengan perahunya. “Kalau perahu disini kecil beda kalau yang ditempat lain perahunya besar, sepeda motor bisa naik perahu,” ujar dia mengawali pembicaraan.

Lebih lanjut dia bercerita, “dulu orang orang ke pasar Babat senang naik perahunya karena lebih praktis dan hemat jarak tempuh,”. Tambangan di Banaran dengan pasar Babat sangat dekat sekali jalan sedikit sudah sampai jalan raya dan menyebrang jalan sudah pasar Babat. Demikian juga anak anak sekolah atau yang mau berpergian ke luar kota dengan angkutan umum turun dari perahu jalan sedikit jalan raya untuk selanjutnya bisa naik kendaraan umum”

Baca:  Perayaan Natal dan Tahun Baru di Jombang, Polres dan Pemkab Pastikan Kondisi Aman

“Apalagi kalau musim lebaran. Itu adalah panen bagi saya, banyak orang yang hilir mudik anjang sana ke sanak familinya menggunakan jasa perahu,” ujarnya sambil mata menerawang jauh ke masa lalu.

Tapi itu hanya cerita masa lalu, Karena sekarang jasa penyeberangan perahu sudah banyak ditinggalkan. Dengan angkutan darat lewat cincin lama disebelah barat atau juga jembatan widang di sebelah timur.

Dengan biaya operasional minimal 2 botol bensin setiap hari dan pendapatan yang hanya 50rb perhari, Mbah Marwan untuk mencukupi kebutuhan sehari harinya terkadang juga mencari ikan di bengawan solo.

Dari penghasilan menambang perahu yang tak seberapa itu entah sampai kapan Mbah Marwan dan penambang perahu penyeberangan akan bertahan.

Baca:  PDIP Ponorogo Gelar Syukuran Atas Dilantiknya Presiden Joko Widodo dan Wapres Ma'ruf Amin

Jurnalis : Fatta
Kabiro    : Ferry Mosses