Sidang Perdana, Notaris Olivia Dijerat Pasal Tipu Gelap

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Notaris Olivia Sherline Wiratno jalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (20/4/2021). Terdakwa Olivia disidang dalam perkara tindak pidana tipu gelap atas tanah seluas 7,2 hektare senilai Rp38 miliar kawasa Gunung Anyar Surabaya.

Sidang digelar di ruang Garuda 2 secara daring ini beragendakan dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Surabaya, yakni Harwiadi. Sedangkan majelis hakim yang menyidangkan kasus ini ialah R. Yoes Hartyarso.

Menurut surat dakwaan yang dibacakan oleh JPU Harwiadi, perbuatan terdakwa Olivia telah melanggar sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 378 dan Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-(1) KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

Kasus yang terjadi pada tahun 2016 ini berawal dari saksi Alek Chandra menawarkan kepada korban Hendra Thiemailattu sebuah sebidang tanah milik Lukman Dalton (berkas terpisah).

Sementara itu, saksi Alek Chandra mengakui sebelumnya diberitahu oleh Lukman (nama di SHM) sekaligus pemilik tanah dengan luas 29.400M2 di kawasan Gunung Anyar Surabaya ini akan dijual.

“Kemudian, saksi Alek mempertemukan Hendra dengan Lukman di kantor Notaris Olivia Sherline di Jalan Pasar Kembang 26-A Surabaya. Setelah tertarik, saksi Hendra lalu diminta terdakwa Lukman untuk membaya Rp 14,5 miliar termasuk biaya notaris,” kata JPU Harwiadi saat membacakan surat dakwaan, Selasa (20/4)

Setelah terjadi kesepakatan, JPU menambahkan, saksi Hendra lalu membayar dengan cek senilai 14,5 miliar.

“Cek tersebut diterima oleh terdakwa dan SHM telah balik nama atas nama Hendra Thiemailattu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, pada Mei 2017, saksi Hendra ditawari kembali oleh saksi Alek, terdakwa Lukman menjual tanahnya di daerah Gunung Anyar Tambak, seluas 42.000 M2, SHM, dengan harga Rp 25 miliar.

“Saksi Hendra lalu membayar dengan cek Rp 5,5 miliar, dan sisanya 20 miliar dibayar Hendra dengan asetnya juga di Gunung Anyar,” terang JPU.

Namun, saat saksi Hendra ingin menjual asetnya yakni sebidang tanah di Gunung Anyar, calon pembeli yang mengecek lokasi, mengatakan jika gambar SHM dengan lokasi tidak cocok.

“Hendra akhirnya komplain ke Lukman. Tetapi dengan tipu muslihatnya, Lukman mengatakan akan mengganti tanah di lokasi Trosobo Sidoarjo sebanyak 12 SHM, yang diakui milik Lukman. Kemudian disepakati harga Rp 49,8 miliar. Saksi Hendra tinggal membayar Rp 34 miliar,” bebernya.

Atas pembelian tanah tersebut, Olivia menyampaikan kepada saksi Hendra seluruh SHM telah dibuatkan akta jual beli dan balik nama atas nama saksi Hendra.

“Setelah itu, seluruh SHM diberikan kepada saksi Hendra,”ujarnya.

Baru pada Maret 2019, kata JPU, barulah diketahui jika seluruh SHM yang diterima saksi Hendra adalah palsu. Ternyata, saksi Lukman Dalton tidak mempunyai tanah-tanah tersebut.

“Bahwa uang yang sudah diberikan kepada terdakwa telah dipergunakan untuk kepentingan pribadinya,” imbuhnya.

Usai mendengar dakwaan JPU, saat diminta tanggapannya, terdakwa yang didampingi penasihat hukumnya, Anut Pranajaya, berencana mengajukan keberatan (eksepsi).

“Kami mengajukan eksepsi Yang Mulia,” ujar Anut saat ditanya ketua majelis hakim R Yoes Hartyarso. Ady