Tuntutan 6 Tahun Bui, Residivis Narkoba Hanya Dijerat Pasal Pemakai

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Alan, terdakwa kasus kepemilikan narkotika jenis ekstasi merk GTR warna merah dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suparlan selama 6 tahun penjara, Selasa (27/4/2021).

Dalam surat tuntutan yang dibacakan JPU Suparlan dari Kejari Surabaya menjerat perbuatan residivis narkoba ini hanya dijerat dengan pasal 112, tentang memiliki dan menguasai narkotika.

Pasal tersebut cukup berbeda dengan isi SIPP Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, yang menyebut bahwa terdakwa Alan sebagai pengedar narkoba, dan barang bukti yang dibawa Alan sebanyak 30 butir pil ekstasi. Sedangkan dalam dakwaan jaksa, hanya 17 butir saja. Sisanya kemana?

Saat dikonfirmasi seusai persidangan, JPU Suparlan membenarkan bahwa barang bukti yanh dibawa terdakwa Alan sebanyak 30 butir, namun sisa yang dipakai terdakwa ini tinggal 17 butir pil ekstasi.

“Itu kan sudah dipakai sebelumnya. Jadi, yang ada itu hanya 17 butir saja,” kata Suparlan, Selasa (27/4).

Selain hukuman pidana saja, Alan juga dikenakan denda Rp.800 juta, subsider 3 bulan penjara. Di sidang sebelumnya, Alan mengakui kalau barang haram itu ia beli hanga untuk dikonsumsi sendiri, tidak untuk dijual kembali.

“Untuk saya pakai sendiri Yang Mulia,” kata Alan menjawab pertanyaan majelis hakim.

Alan ditangkap pada tanggal 14 November 2020 lalu, sekitar pukul 19.00 WIB di rumahnya di Dusun Orokuwali, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan.

Tapi karena terdakwa ditahan di Surabaya, akhirnya PN di Kota itu yang berwenang memeriksa dan mengadili terdakwa. Hal itu sesuai dengan Pasal 84 ayat 2 KUHP. Tim dari Satuan Reskoba Polrestabes Surabaya melakukan penggeledahan rumah itu.

Dalam pemeriksaan tersebut, tim mendapatkan satu Handphone Xiomi yang digunakan untuk memesan Narkotika tersebut. 17 butir ekstasi dengan berat sekitar 5,10 gram. Pil ekstasi tadi terdakwa pesan dari Tri alias Sinyo. Saat ini, orang itu masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Satu butir ekstasi tersebut dihargai Rp 150 ribu. Pembayaran dilakukan terdakwa melalui transfer. Selanjutnya, terdakwa mengambil barang tersebut dengan cara ranjauan. Setelah mendapatkan barang tersebut, Alan lalu membagi dua.

Masing-masing berisikan 17 butir yang disimpan untuk persediaan. Dan 13 butir lainnya digunakan di Hotel Metton Ngagel Surabaya. Bahkan, seminggu sebelum terdakwa ditanggap, ia juga sempat memesan 10 butir ekstasi.

Selain ekstasi, terdakwa juga sempat menyuruh M Hendrik Yahya alias Konteng (berkas terpisah), untuk mengambil ranjauan sabu. Beratnya 100 gram. Terdakwa menyuruh Hendrik melalui pesan singkat Whatsapp. Perintah itu diberikan terdakwa pada 8 Agustus 2020.

Ranjauan itu ada di Sukodono Sidoarjo. Narkotika itu lalu dibagi menjadi lima bungkus. Dua plastik masing-masing 40 dan 10 gram. Keduanya lalu dikirimkan lagi dengan cara diranjau di Pasar Lawang Pandaan. Kegiatan itu dilakukan pada 9 Agustus 2020 pukul 19.00 WIB.

Dihari yang sama, 20 gram sabu dikirimkan kepada Koder dan 10 gram lainnya dikirim ke Pasar Nguling Pasuruan. Keesokan harinya, satu bungkus sabu seberat 20 gram dikirimkan melalui jasa ekspedisi JNE.

Dari perbuatan tersebut, terdakwa memberi upah Hendrik sebesar Rp 2 juta sekali pengiriman. Bayaran itu diberikan dengan cara transfer melalui rekening BCA. Dari pemeriksaan laboratorium kriminalistik pada 8 Desember 2020, 17 butir tablet adalah ekstasi.

Diketahui, terdakwa Alan tertangkap kembali selisih beberapa hari keluar dari tahanan. Sebelumnya, Alan dihukum dalam kasus yang sama pada tahun 2016 lalu, saat itu dia divonis 10 tahun penjara. Ady