Karena Ulahnya, Tri Rahmad Santoso Gak Bisa Lihat Anaknya Lahir

SURABAYA, KANALINDONESIA.COM: Nasib pilu menimpa Tri Rahmad Santoso, terdakwa kasus narkoba. Momen yang ditunggu-tunggu bisa menemani sang istri selama proses kelahiran putra pertamanya pun tidak bisa.

Tri Rahmad Santoso harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dalam persidangan dengan beragendakan keterangan saksi, Kamis (29/4/2021).

Diketahui, dalam dakwaan saat dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Farida Hariani dari Kejati Jatim menyebutkan, bahwa terdakwa Tri Rahmad Santoso ditangkap petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur, lantaran hendak mengantarkan narkoba jenis ganja seberat 1.737 gram atau setara 1,7 kilogram.

Pada saat penangkapan, Tri Rahmad Santoso sedang mengambil paket berisi ganja di J&T Ekspres, Jalan Arjuno Surabaya. Ia ngaku kepada petugas, bahwa paket ganja tersebut milik Doni Dharma Putra. Terdakwa diminta untuk mengambil barang itu dan dijanjikan Doni mendapat imbalan dari Doni.

Terdakwa menyetujui. Karena memang terdakwa kerja sebagai pengantar barang. Lalu, terdakwa bersama Doni pergi ke J&T Ekspres. Namun, keduanya menggunakan motor yang berbeda. Resi pengambilan barang itu, Budi kirim melalui pesan singkat whatsapp.

Terdakwa lalu menunjukkan resi tersebut kepada petugas J&T Ekspres. Selanjutnya, terdakwa mengambil barang tersebut. Baru saja keluar dari ruangan, ia langsung disergap oleh petugas BNNP Jatim.

“Waktu penangkapan ada dua orang. Hanya saja, saat orang tersebut melihat terdakwa di tangkap, ia langsung lari. Mereka tidak goncengan waktu ke J&T,” kata saksi Alfian Muzaki saat memberikan kesaksian dalam persidangan, di ruang Sari 1, PN Surabaya.

Alfian mengakui kalau sebenarnya terdakwa ini hanya disuruh untuk mengambil paket tersebut.

“Doni yang menyuruh terdakwa kini masih dalam pencarian. Ia masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Kalau terdakwa, ditangkap pada 12 Desember 2020,” katanya lagi.

Paketan tersebut langsung diamankan petugas. Tidak hanya itu, handphone, resi pengiriman dan motor terdakwa juga turut disita oleh petugas untuk dijadikan barang bukti.

Dari 1.737 gram ganja tadi, sekitar 1.727 gram telah dimusnahkan pada 9 Maret 2021. Sisanya disimpan untuk dijadikan barang bukti dalam persidangan. Perbuatan terdakwa diancam pasal 114 ayat 2 Undang-undang RI nomor 35 tahun 2009, tentang narkotika.

Sementara itu, mertua terdakwa Nur Handoko mengaku syok mendengar menantunya dipenjara. Sebab, keseharian terdakwa tidak pernah berlaku jahat kepada siapapun. Termasuk kepada orangtua-nya, istri serta mertuanya.

“Saya itu kadang ngopi dengan menantu saya. Selama ini, menantu saya kerja sebagai pengantar barang di salah satu perusahaan online shop. Kadang ia tidur di rumah saya. Kadang juga di rumah orangtuanya. Karena memang rumah saya dan orangtuanya dekat,” ungkapnya.

Ia berkeyakinan kalau menantunya tidak pernah menggunakan narkotika. Ia saat itu menjadi saksi dalam persidangan pertama Tri lantaran ia ingin menceritakan keseharian terdakwa.

Pun termasuk motor yang dipakai terdakwa, adalah miliknya. “Tumben-tumbenan saat itu menantu saya menggunakan motor saya. Padahal, biasanya ia menggunakan motornya atau motor milik ibunya,” ungkapnya.

Diwaktu yang berbeda, menurut pengacara terdakwa, Roni Bahmari, dalam kasus ini, Tri tidak bersalah. Sebab, ia hanya disuruh untuk mengambil paketan tersebut. Bahkan, ia juga bukan pengedar ganja.

“Dirinya (terdakwa) ini kan tidak tahu apa-apa. Ia hanya disuruh mengambil peketan. Dari pengambilan tersebut, terdakwa di berikan imbalan. Terdakwa juga tidak mengetahui isinya apa. Lagi pula, terdakwa tidak pernah dihukum,” celetuknya. Ady