Antisipasi Kejadian di India, Patuhi Prokes dan Vaksinasi Cegah Peningkatan Penyebaran Covid-19

Dialog Produktif bertema Belajar dari India Tingkatkan Kepatuhan Prokes Sekarang Juga yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di kanal YouTube FMB9ID_IKP, Kamis (29/4/2021).

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: KasusCovid-19 di India yang menelan banyak korban, membuka terbelalak mata dunia terjadinya gelombang peningkatan luar biasa jumlah kasus dan adanya varian baru Covid-19.

Pemerintah Indonesia pun secara cepat melakukan berbagai upaya agar kejadian serupa tidak terjadi. Mulai dari travelling warning atau mencegah masuknya orang India ke Indonesia hingga penerapan ketat protokol kesehatan (prokes) dan pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana Bali melihat kejadian di India adalah, begitu kasus Covid-19 meningkat maka diikuti oleh meningkatnya fatalitas atau angka kematian. Penyebab pastinya dari peristiwa di India, belum diketahui seutuhnya.

Ia menduga, banyaknya kerumunan dan minimnya pelaksanaan vaksinasi di India menjadi faktor penentu terjadinya peristiwa tsunami Covid-19 tersebut.

“Lingkup vaksinasi di India masih berkisar di angka 7% dari jumlah penduduknya, euforia vaksinasi di sana masih dini. Jangan sampai ini terjadi di Indonesia, karena lingkup vaksinasi di Indonesia baru menyentuh angka sekitar 2,5% dari jumlah penduduk,” ujar Prof. Dr. Drh. I Gusti Ngurah Kade Mahardika, Ahli Virologi Universitas Udayana Bali dalam Dialog Produktif bertema Belajar dari India Tingkatkan Kepatuhan Prokes Sekarang Juga yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di kanal YouTube FMB9ID_IKP, Kamis (29/4/2021).

Baca:  Patuhi Prokes Untuk Menghindari Tsunami Covid-19

Namun, Prof. Mahardika belum memastikan peningkatan jumlah korban di India akibat mutasi virus Covid-19. “Apa yang terjadi di India masih belum pasti disebabkan oleh mutasi virus Covid-19. Tapi kita belajar bahwa kerumunan, dan euforia minimnya vaksinasi menjadi faktor terbesar yang membuat terjadinya tsunami Covid-19 di India. Hal ini bisa dicegah dengan bersama-sama mematuhi protokol kesehatan 3M,” kata Prof. Mahardika.

Hal senada dikatakan Agoes Aufiya, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di India. Dia pun menceritakan kondisi di India saat ini.

“Dalam 24 jam terakhir, telah terkonfirmasi 379 ribu kasus baru sehingga angka kasus aktif mencapai 3 juta dengan kasus kematian mencapai 3.646. Kalau melihat laporan ketersediaan ruang ICU Covid-19 di New Delhi, dari 4.821 kamar yang ada, kini tersisa 18 ICU saja,” papar Agoes.

Baca:  Pepsodent Klaim Varian Active Defense Mouthwash Bisa Menekan Penyebaran Virus Covid-19

Agoes mengapresiasi KBRI di New Delhi yang memberikan imbauan kepada WNI yang berada di India untuk tetap di rumah saja, tetap mematuhi protokol kesehatan, dan memenuhi pasokan logistik agar tidak keluar rumah kalau tidak perlu.

“KBRI dan KJRI Mumbai memberikan nomor telepon darurat apabila ada WNI yang memerlukan bantuan. Saat ini du New Delhi memasuki masa lockdown fase kedua yang sudah diperpanjang. Lockdow sebelumnya dilakukan pada 20-26 April. Kini diperpanjang 27 April sampai 3 Mei 2021. Untuk keluar rumah ke tempat yang lebih jauh, perlu menggunakan izin tertentu dari pemerintah India,” terang Agoes.

Sementara itu, Dr. Ede Surya Darmawan SKM., MDM, Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), menilai pandemi Covid-19 masih belum berakhir.

Baca:  Pameran Produk Unggulan Jatim 2018

Oleh karena itu protokol kesehatan tidak boleh ditawar oleh masyarakat. Dan, ia berharap PSBB dan PPKM Mikro di Indonesia tetap berjalan.

“Konteks utama protokol kesehatan itu adalah menjaga jarak, ini artinya kita tidak boleh berkerumun sama sekali, kedua memakai masker, dan terakhir mencuci tangan setelah menyentuh apapun,” ungkap Dr. Ede Surya Darmawan.

Selain memperketat 3M yakni menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan, Dr. Ede mengimbau agar elemen masyarakat tetap waspada. ”Ini tanggung jawab kita bersama bukan kewajiban individu semata,” pungkasnya. @Rudi