Home / DIY / Opini / Pendidikan

Kamis, 21 Oktober 2021 - 08:52 WIB

Semarak Hari Santri Nasional (HSN) Siap Siaga Jiwa Raga

Editor - ARSO

Oleh: Supriadi

Penulis adalah mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga

LIKE KONTEMPORER– 76 tahun Indonesia merdeka merasakan indahnya menjadi negara yang berdaulat adil dan makmur di tengah keragaman suku, ras, bahasa, dan agama. Hal ini tidak terlepas dari peran para Ulama dan Santri dalam merebut dan mempertahankan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini. Kepedulian ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan dari tangan menjajah adalah berhasil mengusir tentara Belanda dan Jepang dalam upaya merebut Indonesia. Kekayaan sumber daya alam negara kita menjadi salah satu aspek pertimbangan bangsa asing memonopoli seluruh aset yang dimiliki Indonesia sebagai negara yang akan sumber daya alam. Kekayaan alam ini patut kita jaga dan lestarikan supaya ke depannya tidak dikuasai dan diklaim pihak asing.

Oleh karena itu, presiden Joko Widodo menetapkan peringatan hari santri nasional pada tanggal 22 Oktober 2015 lalu dalam rangka menghargai jasa para ulama dan santri yang telah berhasil merebut, mempertahankan, dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Momentum hari santri nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2021 saat ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di mana perayaannya bersamaan dengan masa pandemi covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia. Pagelaran hari santri nasional yang akan dilaksanakan tepat pada tanggal 22 Oktober 2021 mendatang tentu dengan suasana yang berbeda, yakni mentaati protokol kesehatan dari pemerintah seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Baca Juga  Dosen UNIDA Gontor ini Raih Nilai Tertinggi dalam IELTS Reading, Berikut Rahasianya

Peringatan hari santri nasional bersamaan di masa covid-19 tentu tidak mengurangi kesakralan acara yang digelar. Sejumlah perlawanan ulama dan santri yang berjuang serta berhasil mengusir penjajah dari bumi pertiwi menjadi salah satu bukti perjuangan yang tak kenal lelah hingga mampu ditunjukkan oleh mereka. Selain itu, sebagai generasi penerus perjuangan, kita sebagai insan yang peduli terhadap segala bentuk perjuangan ulama dan santri harus senantiasa merawat kebhinekaan dan melestarikan budaya yang ada dalam peringatan hari santri seperti memakai sarung baik ke masjid ataupun sekolah. Apresiasi setinggi-tinggi bagi ulama dan santri dalam mendidik bangsa ini menjadi bangsa yang maju, berkualitas serta senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta bertaqwa kepada Allah SWT. Hal inilah kemudian sifat-sifat ulama dan santri yang harus diteladani perjuangannya dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap tahunnya perayaan hari santri di gelar sebagai wujud  ucapan terima kasih kepada para santri yang telah turut memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Besok 22 oktober 2021 akan digelar acara periangatan Hari Santri Nasional di berbagai Pondok Pesantren di seluruh Nusantara. Penetapan perinagatan ini mengacu pada keputusan presiden Nomor 22 tahun 2015 yang di tanda  tangani oleh presiden RI Bapak Ir.   Joko Widodo di Masjid Itiqlal Jakarta.

Baca Juga  ITS Ancang-ancang Buka Prodi Kedokteran dan Teknologi Kedokteran

Hari santri Nasional di tetapkan pada tanggal 22 Oktober, hal  ini disebabkan karna melihat kembali sejarah yang dimana pada tahun 1945 Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari tepatnya pada tanggal 22 Oktober beliau menyatakan statemen Resolusi Jihad. Dengan demikian semangat para Santri dan masyarakat untuk memperjuangkan negara indonesia merdeka dari rong-rongan belanda yang ingin menjajah kembali negara indonesia dengan menggandeng sekutunya yakni Inggris.

Hari Santri Nasional tidak hanya dituju kepada anak santri, akan tetapi setiap jiwa yang terpanggil dan darah yang mendidih dikala genderang perjuangan tengah di mulai. Kalimat keramat “Resolusi Jihad” yang di lontarkan oleh Hadraotusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari membakar semangat para santri dan msayarakat sehinnga tidak ada lagi kata takut mati dan akhirnya perlawanan santri dan msayarakat membuat pemuda surabaya dan bung Tomo ikut andil, hingga perlawanan tersebut menewaskan pemimpin sekutu Brigadir Jendral Aulbertin Walter Sorthern Mallaby serta  memukul mundur pasukan belanda dan sekutunya. Mallaby tewas dalam pertempuran yang berslansung pada tanggal 27-29 Oktober 1994.

 

SUPRIADI

Share :

Baca Juga

Tes PPDB SMA Pradita Dirgantara Di Panda Lanud Manuhua

Pendidikan

Sembilan Orang Siswa Ikuti Tes PPDB SMA Pradita Dirgantara Di Panda Lanud Manuhua

Daerah

Muscab Gerakan Pramuka ke-IV Kota Tidore Kepulauan Resmi Digelar

Pendidikan

BPSDM Kominfo Beri Beasiswa Kuliah S2 dan S3 Dalam dan Luar Negeri

Birokrasi

Bekali Materi Modul Nusantara, Untag Surabaya Lepaskan 27 Mahasiswa PMM

Birokrasi

Sebanyak 1.316 Wisudawan Siap Bersaing di Dunia Kerja Dikukuhkan Rektor Untag Surabaya

DIY

Kepala BNPB Memberikan Bantuan Untuk Posko PPKM dan Isolasi Terpusat di DI Yogyakarta

Birokrasi

Guru Besar UK Petra Sulap Abu Terbang Menjadi Pengganti Semen Alami, Berikut Ulasannya

Birokrasi

Satu diantara Sembilan Perguruan Tinggi, Untag Surabaya Siap MBKM Bersama Pemkot Surabaya