Oleh: Liawati Harahap

Penulis adalah Mahasiswa Magister KPI UIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta

Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi saat ini membuat manusia dengan mudah mengakses informasi di media digital. Dalam hitungan detik, manusia dapat mengetahui peristiwa yang terjadi baik di dalam negeri ataupun mancanegara hanya dengan duduk santai melihat smartphonenya. Kemajuan teknologi komunikasi ini harus betul-betul dimanfaatkan dengan baik oleh penggunanya baik sebagai kebutuhan informasi ataupun sebagai sarana hiburan. Terlebih di masa pandemi covid-19 yang banyak mengubah pola komunikasi dan banyak dihabiskan melalui sosial media. Tanpa harus bertemu secara muka dan sebatas mengandalkan gadgetnya, manusia sudah bisa berinteraksi dengan manusia lain. Hal inilah menurut Jean Baudrillard sebagai peristiwa media digital adalah ruang semu, simulasi atau khalayan belaka. Tapi manusia menikmati realitas dunia maya sebagai realitas sosial sebenarnya. (Baudrillard, 1998:78).

Kehadiran media digital dalam lingkungan kehidupan masyarakat adalah sebuah bentuk kemajuan teknologi saat ini, sehingga kebutuhan apapun dapat dengan mudah diperoleh tanpa harus bersusah payah. Akan tetapi, derasnya arus informasi yang terjadi di sosial media terkadang menimbulkan kecenderungan penggunaan media secara berlebihan dan nyaris mengabaikan kewajiban sosialnya di kehidupan nyata. Hal ini sebenarnya menyebabkan implikasi berkepanjangan terhadap pengguna yang kurang cakap dalam menggunakan media. Fenomena penggunaan dan pengaruhnya terhadap penggunanya pernah disampaikan oleh George Gerbner bahwa media telah menanamkan ideologi kepada penggunanya dan memberikan sejumlah pengaruh yang berkepanjangan.(Gerbner, 1982:106).

Dalam hal ini dibutuhkan kecapakan dalam menerima, mengolah, ataupun menggunakan media digital secara bijak. Saat ini, civil society dapat turut berperan menjadi aktor dalam berkreasi dalam percaturan di media sosial baik menghasilkan konten berupa ceramah agama, meme, gambar, ataupun yang lainnya dalam rangka memberikan edukasi kepada publik. Keberadaan sosial media di tengah-tengah kita harus syukuri dan menggunakan secara positif supaya kita tidak terjebak dalam informasi hoax, teror, isu radikalisme, body shaming yang dapat menciderasi diri kita dalam keterlibatan dalam dunia digital. Hal inilah yang kemudian menjadi refleksi bersama dalam menyikapi setiap informasi yang berkembang dan bermunculan. Tanpa disadari, dari waktu ragam informasi dan konten yang bermunculan semakin kurang memberikan nilai edukasi kepada masyarakat.

Berangkat dari sejumlah problematika di atas, kita sebagai insan akademik, menjadi garda terdepan dalam menangkal konten miring dan bersifat menciptakan kegaduhan di media digital. Memberikan edukasi kepada masyarakat adalah salah satu wujud kepedulian kita terhadap sesama dalam menyikapi informasi yang beredar. Karena sejatinya, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Al-Qadlaa’iy dalam Musnad Asy-Syihaab no. 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 5787).

Kehadiran media digital saat ini ibarat dua buah mata pisau, terdapat kelebihan serta kekurangan yang dimilikinya, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Jika salah memperlakukan media, maka efeknya dapat dirasakan oleh penggunanya. Terutama kalangan orang tua yang membolehkan anaknya menggunakan gadget, akan tetapi tetap diawasi. Apalagi pola fikir anak terhadap gadget masih labil sehingga setiap anak menggunakan gawainya sering dikontrol.

Pandemi menuntut lembaga pendidikan untuk menggelar dan memadukan pembelajaran tatap muka dan belajar daring (dalam jaringan). Tidak terkecuali bagi anak-anak yang masih labil dalam menggunakan teknologi sebagai alat untuk belajar. Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting dalam mengawasi secara kontinyu belajar anak menggunakan media digital sebagai sarana belajar.

Peran pendidik dalam memberikan suasana belajar yang nyaman juga penting dilakukan supaya nuansa belajar di masa pandemi menghasilkan konsep pembelajaran yang efektif dan optimal. Metode pembelajaran secara kreatif yang dilakukan pendidik penting diimplementasikan dalam pemaduan pembelajaran jarak jauh dan tatap muka saat ini. Terlebih dilakukan kepada anak-anak yang sangat mudah jenuh, terlebih sifatnya daring.

Dalam pembelajaran daring ini, peran guru sangat vital dalam membentuk karakter anak dan menghasilkan konsep pembelajara yang optimal. Hal ini senantiasa terus digelorakan pendidikan kendati masih menerapkan pembelajaran daring saat ini.

Liawati Harahap
-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here