Husein Ja’far Al-Hadar

Oleh: Anggia Kesuma Putri

Penulis adalah Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Husein Ja’far Al Hadar adalah salah satu ulama yang tampil beda dari beberapa ulama yang aktif berdakwah. Tak ada jubah yang melekat di badannya, juga tanpa jenggot lebat menggantung di dagunya. Selain berpenampilan kece, habib ini memiliki cara bicara yang cenderung lembut. Pembawaannya selalu tenang dan tidak meledak-ledak. Senyum lebar selalu menghiasi wajahnya.

Habib Husein dikenal sebagai intelektual muda Islam. Selepas mondok di sebuah pesantren di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Habib Husein pindah ke Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dengan mengambil jurusan Akidah dan Filsafat Islam. Setelah lulus S-1, ia melanjutkan kuliahnya di tempat yang sama pada jurusan Tafsir Hadits.

Sejak masih duduk di bangku kuliah pemikirannya tentang keIslaman sudah menghiasi beragam media nasional. Kini Habib Husein tak hanya membagikan buah-buah pikirannya melalui tulisan. Selain rajin mengisi kajian-kajian untuk anak muda, setahun terakhir wajahnya kerap berseliweran di linimasa Youtube dan Instagram. Ia membuat kanal di Youtube dengan nama Jeda Nulis, Pemuda Tersesat dan Cahaya Untuk Indonesia yang berisi kajian-kajian soal keislaman. Kanalnya itu kini memiliki lebih dari 1.500 subscriber. Mereka ini lah ‘jemaah digital’ Habib Husein. Zaman memang sudah berubah. Menjangkau umat, tak cukup lagi hanya lewat mimbar-mimbar di masjid atau pengajian.

Habib ini memilih media sosial menjadi salah satu media dakwah bukan hanya untuk menghadirkan oase di tengah-tengah kepungan narasi negatif. Namun Habib Husein juga menjadikan anak-anak muda yang “berkerumun” di medsos sebagai sasaran dakwah. Karna menurutnya anak muda ingin beragama dengan cara yang instan. Tapi ini sebenarnya bukan hanya yang milenial. Semua generasi yang kemudian saat ini disebut generasi hijrah menghendaki keberislaman yang instan. Tanpa  mau nyantri, belajar kitab, belajar bahasa Arab dan belajar ilmu-ilmu Islam.

Keberislaman akan menjadi tipis jika gemar akan yang serba instan. Dia mengatakan padahal Islam itu adalah samudra yang sangat luas dan dalam. Ia pun mengutip Sayyidina Ali yang menggambarkan menelaah Al Quran itu seperti mengupas bawang. “Begitu dibuka ruas pertama ada ruas kedua dan seterusnya. Artinya instan dalam ber-Islam pasti akan menjadi masalah. Maka satu-satunya cara yakni mengajak mereka untuk ber-Islam secara mendalam,” ujar Habib Husein.

Karena itu anak-anak muda yang disebutnya generasi milenial ini juga memerlukan perhatian dari para ulama. “Kita tidak bisa hanya mengkritisi mereka, ‘Ngapain kalian habisin kuota atau waktu di medsos’. Justru kita harus datang kepada mereka untuk kasih narasi positif. Harus proaktif dan pakai pendekatan yang menarik versi mereka,” kata Habib Husein.

Dibutuhkan kreativitas untuk membuat tampilan menjadi tidak terlihat monoton untuk terlihat menarik di kalangan anak muda. Misalnya dengan menggunakan animasi untuk menampilkan data-datanya. Tak hanya soal tampilan yang penting. Isi konten, menurut Habib Husein, juga harus digarap  sangat serius. Anak-anak muda cenderung resisten pada konten yang isinya menggurui. Mereka lebih memilih diperlakukan sebagai kawan yang setara.

Membuat konten kreatif dengan isi bermutu yang lebih banyak, kata Habib Husein, dibutuhkan sebuah komunitas dan manajemen, Habib Husein merencanakan menggalang sejumlah ustadz muda untuk bergabung dalam komunitas dakwah. Nabi Muhammad sendiri, kata Habib Husein, melakukan apa saja dalam dakwahnya. Yang penting tidak bertentangan dengan nilai dasar Islam.

Habib Husein mengatakan pentingnya ustadz moderat, cendekiawan muslim, ilmuwan muslim yang moderat harus mengambil panggung dakwah. Agar masyarakat bisa mendapatkan akses ke ajaran-ajaran yang berkualitas. Bertahan di jalur dakwah nilai-nilai moderat membuat Habib Husein acap disebut sebagai  liberal. Ia juga mendapat cap ustadz apolitis karena dianggap mendukung apatisme anak muda pada politik. Akan tetapi dia tidak pedulu dengan hal semacam itu, ia teguh pada keyakinannya dalam misi sedang menolong agama Allah, maka pasti Allah akan selalu menolong.

-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here