Pro Kontra Galian C Kalikatir, Warga Setempat Saling Lapor Polisi

ilustrasi

KANALINDONESIA.COM, MOJOKERTO : Polemik keberadaan galian C (pasir dan batu) di Desa Kalikatir, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, memunculkan pro dan kontra warga setempat. Pasalnya, ada sebagian warga yang melaporkan jika galian C tersebut ilegal, namun disisi lain warga yang pro dan pengelola galian C melaporkan dugaan tanda tangan palsu yang dilakukan warga menolak galian.

Dari informasi yang dihimpun kanalindonesia.com, bahwa salah satu tokoh warga yang kontra galian C, yakni Musian, pihaknya melaporkan ke Mapolda Jatim dan Mapolres Mojokerto atas dugaan galian C yang diduga ilegal. Sedangkan Slamet Pujiono, pengelola galian C di Desa Kalikatir, melaporkan ke Polsek Gondang atas dugaan pencemaran nama baik serta ada dugaan pemalsuan tandatangan yang dilakukan oleh oknum warga yang mempersoalkan keberadaan usaha pertambangan tersebut.

Sebagai upaya agar konflik dua kubu ini ada titik temu, Polsek Gondang melakukan konfrontir terhadap kedua belah pihak. Langkah itu untuk mengetahui kebenaran terkait tanda tangan yang dibawah warga dalam laporan ke Polda Jatim oleh warga yang kontra galian C beberapa waktu lalu.

AKP Slamet Riyadi selaku, Kapolsek Gondang, mengatakan, ” pihak yang berwajib telah memintai keterangan dari 8 saksi yakni warga setempat di Polsek Gondang. Dan dari hasil pemeriksaan itu, sebanyak enam orang tidak mengakui tandatangan yang dijadikan acuan warga yang kontra, untuk melaporkan galian C yang dianggap ilegal. Artinya, dalam kasus ini juga ada dugaan pemalsuan tandatangan,” ujarnya.(19/04/2017).

Masih menurut penjelasan Kapolsek,” dari hasil konfrontir kedua belah pihak, selain dugaan pencemaran nama baik terkait galian legal (red : berijin), ada juga dugaan perkataan bohong. Perkataan bohong yakni, karena pada waktu itu warga dimintai tandatangan untuk minta bantuan gronjong, bukan untuk penutupan galian C,” ungkapnya.

Saat disinggung terkait langkah Polsek dalam menangani Polemik pro kontra galian C di wilayah tersebut, Kapolsek menjelaskan,” Polemik itu mulai memanas setelah beberapa warga, termasuk Musian, menuduh Slamet Pujiono, bahwa ada galian C ilegal di Desa Kalikatir. Puncaknya, Musian, menggalang warga masyarakat Kalikatir untuk mendukungnya, guna mengelar aksi penutupan dengan cara galang tanda tangan. Namun tanda tangan tersebut bukan hanya untuk penutupan galian C, tanda tangan tersebut juga digunakan untuk meminta bantuan gronjong kepada pemerintah lantaran sebelumnya ada banjir bandang. Karena hal inilah, beberapa warga merasa dibohongi. Untuk itu hari ini, saya panggil warga dan Musian untuk konfrontir, terkait masalah ini,” pungkasnya.

Dikonfirmasi secara terpisah Musian, sebagai terlapor pihaknya membantah terkait adanya pemalsuan tandatangan yang digunakannya sebagai lampiran laporan ke Polda Jatim dan Polres Mojokerto, serta pihaknya juga membantah bahwa penggalangan tanda tangan tersebut untuk minta bantuan gronjong pasca terjadinya banjir bandang.

“Semua itu tandatangannya asli semua, dan Kenapa juga saya minta tanda tangan soal bantuan gronjong . Saya juga bukan polo atau perangkat desa. Saya minta tanda tangan ya untuk ini (lampiran menolak galian c),” pungkasnya.(19/04/2017)

Sementara itu, Slamet Pujiono, selaku pihak pengelola galian C Kalikatir mengatakan,” galian C yang saya kelola memiliki ijin resmi hingga tahun 2019. Soal dugaan kerusakan lahan pertanian. Ya mesti saja rusak, kan batunya diambil, namun lahan milik warga kan sudah dibeli. Setelah itu kita kembalikan lagi sebagai sawah lagi yakni melalui reklamasi. Selama ini sudah kami lakukan reklamasi 30 persen dan sawahnya bisa digarap lagi,” paparnya.

Masih menurut penjelasan Slamet,” dari hasil pemeriksaan soal tanda tangan yang diduga palsu. Bagi saya, ada warga yang dihasut jika tanda tangan tersebut untuk gronjong. Ternyata tanda tangan tersebut untuk pelaporan ke Polda. Jelas kami tidak terima karena galian kami ijinnya lengkap,” tegasnya.

Ketika disinggung terkait jika ada rencana untuk mediasi bersama warga yang kontra adanya galian C, pihaknya mengatakan,” tetap menunggu dari pemilik usaha galian. Jika pengusahanya menghendaki untuk damai ya terserah, karena saya punya bos, kalau bosnya lanjut ya laporan ini tetap berlanjut. Intinya ini tadi di konfrontir soal laporan warga dan dugaan pemalsuan tanda tangan. Dan perlu diketahui bahwa warga yang kontra galian, tujuannya sengaja untuk mengusik keberadaan usaha galian. Repot musuh orang iri, dia (red : Musian) juga sering minta uang ke saya,” pungkasnya.(mmk1/elo)