Rendang Menjadi Menu Wajib Catering Haji Dan Umrah, UKM Laksana Industri Raup Rp 15 Miliar

UKM Laksana Industri Memamerkan Produk Aneka Keripik Buah, Bajigur dan Bumbu
Rendan

KANALINDONESIA.COM, JEDDAH: Siapa yang tidak mengenal masakan Rendang? Sebentar lagi menu masakan rendang akan banyak dijumpai dan menjadi makanan wajib bagi jamaah Haji maupun Umrah yang menjalankan Ibadah di Tanah Suci tahun ini.

Hal ini dinyatakan oleh beberapa perusahaan catering Haji dan Umrah yang melayani jamaah Haji dan Umrah dari Indonesia pada saat B to B meeting antara pengusaha Indonesia peserta pameran Saudi Food Hotel and Hospitality  (SFHH) 2017 dan buyers potensial yang diselenggarakan oleh Tim Ekonomi dan Perdagangan KJRI Jeddah dalam bentuk Gala Dinner di Red Sea Hotel Balad Jeddah, Arab Saudi akhir April 2017.

Masakan rendang merupakan warisan luhur nusantara yang harus dilestarikan dan perlu terus dikampanyekan bahwa rendang merupakan kuliner asli Indonesia.

Masakan rendang berbahan dasar daging yang dicampur dengan bumbu dengan cita rasa pedas yang berasal dari aneka jenis rempah-rempah yang ditambahkan dalam masakan.Rendang ini dimasak dengan proses pemanasan berulang-ulang dengan adonan santan kelapa.

Melalui proses pemanasan ini aneka bumbu dan rempah-rempah meresap kedalam daging sehingga rendang mempunyai cita rasa yang khas, unik dan berbeda dengan masakan lainnya.

Khalil S Fatta managing partner perusahaan Mutawify Hujaj S.E Est,salah satu perusahaan jasa catering berlokasi di Makkah-Almukaromah pada saat melakukan uji masakan bumbu rendang bersama Iriawan Arim Raibi dari UKM Laksana Indutri yang memamerkan bumbu rendang pada saat SFHH sangat yakin bahwa citra rasa dari resep khas minangkabau ini begitu memikat dan sangat cocok untuk disajikan kepada jamaah yang berasal dari Indonesia, bahkan tidak menutup kemungkinan disajikan juga kepada jamaah yang berasal dari masyarakat melayu yang berasal dari Negara Asia Tengga lainnya seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Thailand.

“Kami ingin melayani jamaah Haji dan Umroh dari Indonesia serta masyarakat melayu dari Negara  Asia  Tenggara lainnya dengan baik. Tidak mungkin kami melayani masyarakat  Indonesia dengan menyajikan menu masakan dari negara lain. Keterbatasan waktu untuk beribadah selama menunaikan  Haji dan Umrah akan banyak menyita waktu bagi jamaah,  tentunya jamaah akan merasa nyaman dan betah kalau pada saat waktu istirahat dan makan mendapatkan menu  masakan dari negeri sendiri, oleh karena itu kami akan menyajikan menu rendang  sebagai bentuk penghormatan  kami kepada jamaah Haji dan Umrah dari Indonesia,”ucap Khalil S Fatta

Konsul Jenderal R.I Jeddah,  M Hery Saripudin pada saat berkoordinasi dengan Tim  Ekonomi dan Perdagangan menyatakan bahwa sudah saatnya potensi kuliner ini menjadi menu wajib bagi jamaah Haji danUmrah Indonesia, mengingat Pemerintah Arab Saudi memberikan tambahan kuota Haji bagi Indonesia mencapai  221 ribu di  tahun  2017 maka jumlah jamaah Haji danUmrah dari Indonesia setiap tahun bias mencapai lebih dari 1,2 juta.

Potensi besar ini harus bias memberikan dampak bagi peningkatan nilai transaksi perdagangan Indonesia di Arab Saudi.

Berdasarkan catatan dari Bachtiar  Saleh Ismail, pelaksana Fungsi Ekonomi KJRI  Jeddah dari laporan nilai kontrak UKM Laksana Industri, pada pameran SFHH 2017  ini memamerkan komoditi teh, kopi, minuman dari jahe dan coklat serta bumbu rendang.  Sampai hari terakhir pameran SFHH dan dilanjutkan dengan kegiatan B to B meeting, Laksana Industri telah sukses mendapatkan partner bisnis dengan capaian kontrak sebesar lebih dari Rp 15 miliar.

Nilai kontrak ini terbesar didapatkan dari bumbu rendang  dengan nilai kontrak lebih dari  Rp 9 miliar.

Gunawan, Kepala ITPC Jeddah menambahkan bahwa berdasarkan data statistic perdagangan tahun  2012  sampai dengan 2016, ekspor Indonesia ke Arab Saudi untuk komoditi teh, kopi dan rempah–rempah menunjukkan pertumbuhan yang terus meningkat dan tren pertumbuhannya mencapai 32,17%.

Pada tahun  2012 Indonesia berhasil ekspor komoditi teh, kopi dan rempah–rempah senilai US$ 4,5 juta, tahun 2013  senilai US$ 4,98 juta, tahun 2014 senilai US$ 7,05 juta, tahun 2015 senilai US$ 10,58 juta.

Realisasi ekspor komoditi teh, kopi dan rempah-rempah pada tahun akhir  2016  mencapai angka US$ 12,57 juta atau naik sebesar 18,76%  dari tahun 2015.(*)