Fahri Hamzah: Wartawan, Blogger, dan Anggota DPR RI Juga Buruh

Wakil ketua DPR RI Fahri Hamzah

KANALINDONESIA.COM, JAKARTA: Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menemui wartawan di media center wartawan DPR RI, untuk sekadar ngobrol soal buruh (may day), hari pendidikan nasional (Hardiknas) dan hari pers dunia. Menurutnya, wartawan, blogger, dan anggota DPR RI juga buruh, yang disatukan dengan komitmen kerja dan tanggung jawab yang sama untuk rakyat.

Hanya saja kalau pejabat negara seperti anggota DPR RI ini digaji dengan uang negara, dan tanggung jawabnya tentu lebih besar. Namun, siapa pun yang bekerja secara profesional seharusnya mendapat konpensasi yang wajar.

Yang lebih penting lagi kata Fahri, wartawan dan blogger kini sudah mengambil-alih peran guru konvensional. Karena pekerjaan jurnalis dan blogger tersebut mencerdaskan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

“Jadi, memperhatikan dunia wartawan dan blogger ini penting dan mesti diatur lebih adil,” ujarnya.

Apalagi di DPR RI ini banyak sumber berita, 560 anggota DPR RI.  Pers kini ada yang mempunyai basis organisasi dan individu (blogger). Bahkan Presiden AS Donald Trump menjadikan penasihatnya dari blogger, karena dinilai lebih indepeneden dibanding media maintream.

Sebab, kalau pemilik media bermain mata dengan kekuasaan, dan atau pemodal, maka seorang wartawan itu dipertanyakan independensinya. Sedangkan blogger lebih tulus, dan ketulusan itu menjadi sumber kebenaran.

Nah, pressroom DPR RI bisa menjadi moderator atas semua kegelisahan DPR RI. Kesekjenan dan tenaga ahli DPR RI bisa menjadi mitra wartawan. Sehingga semua anggota pressroom ini mempunyai peran masing-masing, dan dengan begitu mempunyai tanggung jawab yang sama dan karenanya layak difasilitasi.

Sekarang ini muncul jutaan anatomi pers, maka  rezim verifikasi oleh Dewan Pers itu tak bisa dibiarkan, karena berbahaya. Yang penting membangun etik dan independensi ke depan.

“Intinya kelahiran pers baru seperti media sosial itu bisa dirancang dengan baik, tetap beretika, dan demokrasi akan lebih bai.  Seperti dalam perdagangan, jangan sampai ada monopoli dalam persaiangan usaha,” pungkasnya. (gardo)