Sapto Budi bersama Kepala Cabdin Dinas Pendidikan Wilayah Ponorogo, Nurhadi Hanuri

PONOROGO, KANALINDONESIA.COM: Namanya Sapto Budi Wijanarko. Lelaki paruh baya ini adalah seorang guru olahraga yang dilahirkan di Ponorogo pada 16 Mei 1962 silam. Anak-anak didik di SMA Negeri 1 Ponorogo tempat mendermakan profesinya mengenal dan biasa memanggil dengan panggilan Pak Sapto.

Tidak sedikit juga dari siswa maupun temannya kadang memanggil Sapto Budi Wijanarko dengan sebutan “Jackie Chan”, tokoh film action terkenal dari negara China. Karena ia kebetulan ada kemiripan wajah dengan tokoh film tersebut. Karakternya pun juga ada kemiripan: energik dan humoris.

Energiknya selaras dengan profesinya sebagai guru olah raga (olga). Walaupun kalau dari postur tubuh, tingginya kurang. Sapto bertubuh tidak tinggi dan kecil.

Tapi di balik Sapto, ternyata menyimpan prestasi yang luar biasa. Khususnya di bidang cabang olahraga atletik, yaitu lari, lompat jauh, lompat jangkit.

Prestasi dan kesuksesannya dimulai tahun 2019, tepatnya di bulan Juli. Sapto saat itu mengikuti kejuaraan atletik di Solo tingkat nasional. Ia mampu meraih medali perunggu di nomor lompat jauh, dan medali perunggu di nomor lari 100 meter.

Selang 3 bulanan usai event Solo, pada bulan Oktober 2019 bertepatan Hari Sumpah Pemuda ia bertekad untuk mengikuti kejuaraan Indonesian Athletic Open 2019 di Jakarta yang digelar oleh Persatuan Atletik Master Indonesia (PAMI). Kategori yang diikutinya untuk kelompok usia 55-59 tahun.

Di kejuaraan bergengsi ini diikuti kurang lebih 400 pesera dari berbagai negara, Sapto berhasil meraih 2 medali sekaligus. Yaitu: medali perak di nomor lompat jauh, dan medali perunggu di nomor lompat jangkit.

Perjalanan untuk mencapai tangga medali, diceritakan kilas balik Sapto penuh dengan perjuangan. “Dengan berdarah-darah mas,” katanya meyakinkan wartawan.

Bagaimana tidak, Sapto menjelaskan, di kejuaraan tersebut ia sempat mengalami cidera di tangan dan kaki. Tangan saya kena paku dan keluar darah, harus diperban. Begitu juga kaki saya. Pada hari itu dalam nomor yang saya ikuti harus didiskualifikasi.

“Tapi semangat saya tak pupus dan menyerah begitu saja. Saya bangkit, masih ada peluang untuk saya untuk hari besok. Menyisakan satu hari dan ada nomor yang bisa saya ikuti,” ucap Sapto.

Dalam mempersiapkan lomba untuk besok setelah hari sebelumnya didiskualifikasi, Sapto berfikir keras. Cidera yang dialaminya menjadi kendala dan butuh strategi jitu untuk tetap bisa mengikuti dengan baik. Dari biasanya 25 meter-an awalan lari untuk melompat, terpaksa saya tempuh 10 meter.

“Walaupun tidak mengambil awalan jauh, namun saat gaya berjalan melayang di udara saya tetap bisa maksimal atau bagus. Dan berhasil mendarat dengan catatan 5,02 meter,” ujar lelaki yang juga hobi menyanyi ini.

Salah satu medali yang didapatkan Sapto Budi

Berlanjut Tingkat Asia

Torehan prestasi guru olahraga SMAN 1 Ponorogo ini pun berlanjut ke tingkat lebih tinggi yaitu Asia. Ajang lebih bergengsi lagi. Dia harus berjuang lebih berat melawan kompetitor-kompetitor, seperti: dari Cina, Jepang, Thailand, India, dan negara di wilayah Asia lainnya.

Kejuaraan tingkat Asia ini diselenggarakan di Malaysia. Tepatnya, pada tanggal 1-7 Desember 2019. Sapto dalam kesempatan ini sekaligus mewakili negara Indonesia. Ia harus berangkat sendiri ke negara Malaysia dengan berbekal tekad bulat.

Walaupun berbekal uang pas-pasan tak menyurutkan semangatnya untuk mundur dari medan pertandingan. Setelah beberapa hari berjuang di sana, Sapto pun pulang tidak dengan tangan hampa. Ia masuk dalam 8 besar dan 4 besar pemenang.

Di balik tekad keikutsertaan di Malaysia, Sapto sempat juga mengalami beberapa kendala. Pertama, di awal keberangkatannya pun sudah terjadi perang batin dalam diri Sapto. Antara berangkat atau tidak? Berangkat karena ada misi membawa bendera negara, dan tidak berangkat karena tanggal 7 Desember itu anaknya akan wisuda.

“Sempat bingung mas, tapi Alhamdulillah Allah memberikan jalan terbaik. Saya tetap berangkat, dan pulang pun masih bisa menghadiri wisuda anak,” katanya.

Saat kepulangan menuju Indonesia pada tanggal 5 Desember 2019 ada cerita menyedihkan yang dialami. Dalam mengejar waktu menghadiri wisuda anak, kebetulan jadwal penerbangannya ditunda. Sapto sempat  linglung menghadapinya. Ia terus berusaha agar bisa terbang pulang ke Indonesia. Dan akhirnya ada jalan dia keluar dari kegelisahan ini.

Setelah dari event Asia, pandemi Covid 19 melanda di seluruh dunia. Efek dari pandemi, semua pertandingan-pertandingan ditunda atau tidak diselenggarakan. Dan sampai sekarang masih off untuk pertandingannya.

 

Pandemi Tetap Berprestasi

Situasi pandemi hampir menghentikan dan mematikan segala aktifitas seseorang. Tapi tidak bagi Sapto. Hobi dan prestasi larinya tetap ia kejar. Walaupun kejuaraan bersifat langsung (tatap muka) masih tutup, Sapto mencari jalur secara virtual.

Di situasi ini, ia mengikuti “Virtual Run” yang diselenggarakan oleh Jump Run Community. Pertandingan virtual setiap dua Minggu sekali.

Sapto menjelaskan, teknis dari virtual run adalah kita harus mengunduh aplikasi Jump Run dulu. Setelah itu, ada pertandingan lari jarak jauh yang harus dijalani oleh setiap peserta. Pihak server/penyelenggara akan menentukan jarak tempuh dan batas waktu tempuh. Setelah selesai jarak tempuh lari kita lalui, kita kirim bukti ke server.

“Setelah selesai dan tidak melebihi deadline waktu, kita akan mendapatkan medali dan hadiah lain,” jelas Sapto.

Di akhir, Sapto berpesan khususnya kepada teman seprofesi untuk terus bisa memberikan tauladan yang baik bagi anak didiknya. “Ukiran prestasi yang kita dapat, akan menjadi daya tarik sendiri bagi anak didik,” pungkasnya. (pras)

-

2 COMMENTS

  1. Bapak Guru Idola saya. Terima kasih sudah dengan sabar membimbing saya waktu SMA dulu. Semoga Bapak senantiasa diberkahi kesehatan, panjang umur yang bermanfaat, dan menjadi tauladan para murid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here