Tiga Sindikat Pemalsu KTP dan KK Dibekuk Satreskrim Polres Jombang

Pelaku pemalsuan KTP dan KK saat Press rilis di Mapolres Jombang.

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Jajaran Satuan Reserse Kriminal Polres Jombang, Jawa Timur, berhasil meringkus tiga pelaku sindikat pemalsu KTP elektronik dan Kartu Keluarga Di Kabupaten Jombang Jawa timur, pada jumat (12/5) dinihari. Pemalsuan dokumen kependudukan ini dilakukan dengan menganti indentitas asli dari KTP dengan indentitas sesuai dengan pesanan.

Identitas Ketiga pelaku yang diringkus petugas yakni, Samsul Huda (39) Warga Desa Kalianyar Kecamatan Jogoroto Kabupaten Jombang, Nanang Setiono (36) Warga Desa Puri Semanding Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang, serta Sugeng Priono (52) Desa Sumberagung Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang. Sementara itu dari tangan para pelaku petugas berhasil menyita tujuh lembar KTP palsu, 16 lembar plastik print injek yang berisi identitas yang diduga palsu, satu set komputer lengkap dengan printer dan 3 lembar kartu keluarga yang diduga palsu.

Kepala satuan Reserse kriminla Polres Jombang, Ajun Komisaris Polisi Wahyu Norman Hidayat menjelaskan, penangkapan ketiga pelaku ini berdasarkan laporan dari masyarakat pada (9/5) bahwa diwilayah Plandaan Kabupaten Jombang. “Dan baru pada jumat (12/5) kita Lakukan penangkapan terhadap para pelaku,” Ujarnya saat press rilis dimapolres jombang. Rabu (17/05/2017).

Norman menambahkan, modus operadi yang digunakan para pelaku dalam memalsukan KTP tersebut yakni dengan memanfaatkan KTP  bekas atau KTP yang sudah tidak berlaku di kecamatan atau di disdukcapil serta KTP orang meninggal setelah itu mereka tempel dengan plastik yang hampir identik dengan yang aslinya.”sangat mirip dengan aslinya dengan kemiripan hampir 90 persen yang membedakan hanya dari cetakan huruf yang agak kasar,” tegasnya.

Saat disinggung dari mana pelaku mendapatkan bahan untuk memasulkan KTP tersbeut, Norman menambahkan, para pelaku berburu sendiri bahan material tersebut dari warga dan di tempat sampah dinas kependudukan dan catatan sipil.

“Namun kita akan dalami apakah ada keterlibatan pelaku lain dalam jaringan tersebut,” Imbuh norman.

Masih menurut norman, berdasarkan keterangan para pelaku, mereka baru selama enam bulan terakir menjalankan pemasuan KTP dan KK, dan setiap ada pesana mereka dibayar Rp 50 ribu untuk setiap dokumen yang dipalsukan.

“para pelaku kita jerat pasal 263 ayat 1 ayat 2 tentang tindak pidana berupa pemalsuan suatu surat Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara,” pungkasnya.(elo)