JPPI Mengecam Keras Dugaan Penganiayaan Taruna Akpol

ilustrasi
ilustrasi

KANALINDONESIA.COM, SEMARANG: Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia ( JPPI) mengecam keras terhadap penganiayaan hingga mengakibatkan kematian yang dialami Taruna Akademi Kepolisian (AKPOL) tingkat II Brigadir Dua Taruna (Brigdatar) asal Ambon Mohammad Adam.

Dugaan sementara dipukuli oleh senior dan sekitar 21 orang yang menjadi saksi. Diduga karena korban telah melakukan kesalahan terkait kedisiplinan, Kamis (18/05/2017) kemarin.

Menurut Nailul Faruq selaku kordinator advokasi JPPI, kekerasan pendidikan Akpol yang dialami Brigadir Mohammad Adam sampai meninggal dunia kurang pengawasan dari pengasuh.

“Saya dari pihak JPPI, mengecam keras atas aksi penganiayaan yang tejadi dan sampai mengakibatkan hilang nyawa seorang Taruna Akpol Tingkat II (Brigdatar ) Muhammad Adam, bila perlu Pak Kapolri ikut turun tangan dan mengusut tuntas masalah ini,” ujarnya kepada kanalindonesia, saat dikonfirmasi lewat sambungan telephone seluler, Jumat (19/05/2017).

Nailul mengatakan, motif kejadian ini semacam tradisi ketika junior bertemu senior lalu kemudian ada semacam penggojlokkan dan ada motif semacam balas dendam. merujuk kejadian sebelumnya tidak hanya yang dialami Akpol saja, kejadian seperti kasus-kasus lain dalam dunia pendidikan Indonesia sudah sangat mencoreng.

Merujuk hasil penelitian yang dilakukan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) dalam indeks layanan pendidikan di Indonesia pada tahun 2016 yang disebut Right To Education Indeks (RTEI) menyebutkan bahwa ada 3 problem utama pendidikan di Indonesia 1. Kualitas guru rendah

  1. Sekolah tidak ramah terhadap anak
  2. Diskriminasi kelompok marjinal

Menyikapi tindak kekerasan hingga menewaskan salah satu Taruna di Akpol, Nailul Faruq mengatakan, JPPI memandang bahwa:

  1. Kekerasan masih dianggap sebagai bagian dari pembelajaran.
  2. Lengahnya pengawasan dari pemerintah dan dewan pendidikan
  3. Relasi senior dan junior masih menjadi tradisi di sekolah yang diwarisi turun menurun.
  4. Sanksi atas pelaku pelanggaran kekerasan di lingkungan sekolah masih belum mengenai semua pihak yang terlibat, tapi hanya pelaku dilapangan.
  5. Lemahnya peran komite sekolah dan peran masyarakat dalam pengawasan dan pelaporan atas kasus-kasus pendidikan.
  6. Pelaku harus diusut dan dihukum berat sesuai pasal yang berlaku, sampai ada efek jera.

Dia menambahkan, perlu adanya penyadaran kuat dari pihak terkait. Misalnya pembiasaan dan teladan, menjelaskan filosofi dan nilai – nilai perilaku, kalau memberikan punisment harus dengan cara mendidik dan menimbulkan kesadaran, bukan malah memberikan sakit hati atau sakit fisik.

“Kami berharap semoga kasus ini menjadi yang terakhir di dunia pendidikan dan polisi bisa bergerak cepat serta mengusut tuntas masalah yang dialami Taruna Akpol yang meninggal dunia (Brigdatar) Mohammad Adam, bila perlu dihukum berat oknum yang sudah membunuhnya.”tegasnya. (Andi)