DPC Demokrat Jombang Tidak Mau Gegabah, Soal Pilkada Serentak 2018

ilustrasi

KANALINDONESIA.COM, JOMBANG : Dinamika jelang Pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) serentak 2018 nanti, nampaknya sudah mulai hangat. Beberapa partai politik menyiapkan sejumlah strategi, seperti halnya Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Jombang, yang juga sudah mempersiapkan strategi, dan tak mau gegabah dalam menetukan arah koalisi nantinya.

Hal ini ditegaskan oleh ketua DPC Partai Demokrat, yakni M. Syarif Hidayatulloh, untuk menghadapi pemilukada serentak 2018 tersebut, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah strategi.“Strateginya tentu Partai Demokrat menyiapkan segala rangkaian untuk menuju perhelatan Pilkada yang dilakukan secara serentak 27 Juni 2018. Secara kelembagaan Partai Demokrat harus mempersiapkan secara baik dan benar dalam menyiapkan kader-kadernya untuk bertarung dalam Pilkada serentak nanti,” ujarnya.(22/05/2017)

Masih menurut penjelasan Syarif, “berbicara strategi tentunya semua partai punya strategi sendiri-sendiri, dimana tokoh dari Partai Demokrat (PD) yang bisa membawa kemajuan terhadap daerah untuk mensejahterakan rakyat,” ungkapnya.

Saat disinggung terkait langkah kadernya yang sempat melakukan komunikasi lintas partai di DPRD Jombang, apakah merupakan bagian dari strategi, PD Jombang, pihaknya menuturkan,“Yang dilakukan rekan kami tersebut, bukanlah merupakan penjajakan lintas fraksi dan bukan merupakan instruksi partai. Beliau hanyalah ngobrol-ngobrol biasa, yang kebetulan saja ada teman-teman berbagai partai lain. Sayangnya, rekan-rekan pers berasumsi itu langkah politik,” tegasnya.

Menurut Syarif atau pria yang akrab disapa dengan sebutan Gus Sentot menjelaskan,” situasi politik jelang Pemilukada 2018 mendatang, berbeda ketika 2013 lalu. Pilkada 2018 belum bisa diprediksi Cabup-Cawabup mana yang akan menang dan Demokrat dalam hal ini tak ingin gegabah dalam berkomunikasi politik, karena menentukan arah koalisi tak boleh gegabah,” jelasnya.

Lanjut Syarif,” Semua opsi terkait koalisi, masih mungkin saja terjadi karena komunikasi politik lintas partai masih terus dilakukan dijajaran elit partai, dan komunikasi politik belum menunjukkan hal yang konkrit, situasinya masih sangat cair dan apapun bisa terjadi, politik itu dinamis, semua masih bisa berubah,” pungkasnya.(elo)