Mudah dan Ringannya Berpuasa dalam Ayat Puasa

Oleh: Bahtiar H. Suhesta

KANALINDONESIA.COM: Mudah dan ringannya puasa di bulan Ramadhan tidak saja disebut dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 185ataupun dalam rangkaian ayat 184-185 terkait 3 asas penerapan hukum Islam sebagaimana tulisan terdahulu. Namun, dalam ayat sebelumnya pun, Q.S. Al-Baqarah: 183-184, yakni ayat yang terkait dengan kewajiban berpuasa, kemudahan dan keringanan syariat puasa di bulan Ramadhan itu sudah disebutkan secaratersirat dan bahkan elegan.

Dalam ayat tersebut Allah SWT berfirman,

 يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كُتِبَ عَلَيكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذينَ مِن قَبلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقونَ<>أَيّامًا مَعدوداتٍ ۚ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Yakni beberapa hari yang ditentukan.

Membaca dan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an, kita senantiasa mendapatkan makna yang luar biasa, baik tersurat maupun tersirat. Dalam ayat di atas misalnya, ada banyak makna yang bisa diambil. Tiga hal di antaranya terkait dengan kemudahan dan keringanan berpuasa.

Pertama, frase “diwajibkan atas kamu berpuasa”. Allah menurunkan kewajiban berpuasa ini dalam bentuk kalimat pasifdiwajibkan atas kamu berpuasa”. Kalimat pasif tidak secara eksplisit menyebut tentang siapa subyek pelakunya (fa’il) melainkan hanya menyebutkan predikat (kata kerja) dan obyeknya (maf’ul bih) saja. Subyek pelakunya hidden. Tersembunyi. Allah tidak memerintahkan dengan “Aku perintahkan kalian berpuasa” atau “Aku mewajibkan kalian berpuasa”.

Ini mengesankan betapa lemah lembutnya Allah SWT dalam menurunkan syariat berpuasa ini. Betapa anggun “perintahnya” untuk berpuasa ini kepada kita. Dan itu bertambah elegan dan penuh kasih sayang ketika “perintah” ini didahului dengan panggilan mesra kepada kita “Yaa ayyuhalladziina aamanu”.Wahai sekalian orang-orang yang beriman.

Kalimat pasif ini juga menyiratkan bahwa kewajiban berpuasa ini pada hakikatnya manfaatnya kembali kepada diri kita sendiri. Karena manfaatnya yang sedemikian besar bagi diri kita sendiri, tidak saja secara fisik/jasmani, tetapi juga kejiwaan/ruhani kita, maka andaikan Allah tidak memerintahkan sekalipun, seolah-olah “diri kita sendirilah yang akan mewajibkan” perintah berpuasa ini. Sangat rugi besar jika kita tidak berpuasa. Hal demikian memberikan dorongan semangat yang kuat luar biasa bagi kita untuk mengerjakannya, karena semangat yang demikian itu bersifat self-spirit,inner-spirit, berasal dari dalam diri kita sendiri.

Kedua, mari perhatikan frase “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. Sebagai analogi, ketika “menyuruh” anak kita untuk berangkat mengaji, mungkinkita akan mengatakan, “Itu lho seperti kakak-kakakmu, teman-temanmu, mereka juga berangkat mengaji semua.” Itu seperti mengatakan, jika mereka bisa melaksanakan, kamu pun bisa. Jika kaum terdahulu bisa melaksanakan syariat puasa, maka kita pun bisa. Artinya, puasa itu secara historis sudah dilaksanakan oleh orang-orang terdahulu sebelum kita –tentu dengan aturan dan cara masing-masing. Jadi, tidak ada yang berat,toh kaum terdahulu juga sudah melaksanakannya.

Ketiga, frase “ayyaaman ma’duudaat”. Kalimat di awal ayat 184 ini biasanya dilangsungkan dibaca setelah akhir ayat sebelumnya menjadi “… la’allakum tattaquuna ayyaaman ma’duudaat”. Frase itu berarti “beberapa hari yang ditentukan”.

Penyambungan pembacaan ayat ini seperti memberi sinyal kepada kita bahwa syariat puasa Ramadhan yang diwajibkan (pada ayat 183) itu sebenarnya “hanya beberapa hari saja kok” (ayat 184). Tidak setiap hari. Hanya 1 bulan dari 12 bulan dalam setahun. Hanya 29 hari dari 354,36708 hari dalam setahun kalender hijriyah. Kurang dari 10% dari waktu setahun yang diberikan pada kita. Enteng! Kita pasti bisa!

Jadi, ketiga makna di atas: adanya inner-spirit, puasa juga sudah dilaksanakan umat terdahulu, dan itu hanya untuk beberapa hari saja, sudah cukup untuk mengerucut pada kesimpulan bagi yang menerima “perintah” puasa ini, bahwa betapa puasa itu mudah dan ringan, bisa dilaksanakan oleh manusia biasa seperti kita, apalagi manfaatnya sangat besar bagi diri kita sendiri. Belum lagi jika bicara apa balasan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya bagi orang-orang yang berpuasa dengan penuh ikhlas disertai dengan keimanan.

Oleh karena itu wajar jika kehadiran bulan Ramadhan adalah kabar gembira bagi sekalian kaum muslimin. Sebagaimana Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dengan datangnya bulan Ramadhan dengan sabdanya,

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan.” (H.R. Ahmad, Nasai, dan dishahihkan Syuaib al-Arna’uth).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Dan Dialah Yang Maha Agung. Dan sungguh benar apa yang disampaikan Rasulullah SAW yang mulia.

Wallahu a’lam.

“Disarikan dari berbagai sumber.”

Bahtiar Hayat Suhesta
Bahtiar Hayat Suhesta