Siap-siap! Tak Hanya Biaya Sekolah, Melahirkanpun Akan Dikenai Pajak

- Editor

Minggu, 13 Juni 2021 - 11:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

istimewa
istimewa

JAKARTA, KANALINDONESIA.COM: Setelah ramai diperbincangkan tentang rencana pemerintah yang akan mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) pada bahan pokok atau sembako, jasa pendidikan atau sekolah, pengenaan pajak juga akan dilakukan pada jasa rumah bersalin.

Rencana pemungutan pajak jasa rumah bersalin tertuang dalam draft Perubahan Kelima Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).

Adapun ketentuan dalam Pasal 4A dihapus dalam draft tersebut. Pada Pasal 4A Ayat 3, jasa pelayanan kesehatan medis yang terdapat dalam poin A dihapus dari jenis jasa yang tidak dikenakan PPN. Artinya, jasa pelayanan kesehatan medis, termasuk jasa rumah bersalin bakal dikenai pajak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Merujuk pada Undang-Undang (UU) Nomor 49 Tahun 2009, jasa pelayanan kesehatan medis meliputi:

  1. jasa dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi;
  2. jasa dokter hewan;
  3. jasa ahli kesehatan seperti ahli akupunktur, ahli gigi, ahli gizi, dan ahli fisioterapi;
  4. jasa kebidanan dan dukun bayi;
  5. jasa paramedis dan perawat;
  6. jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium kesehatan, dan sanatorium;
  7. jasa psikolog dan psikiater; dan
  8. jasa pengobatan alternatif, termasuk yang dilakukan oleh paranormal.

Tidak hanya itu, nantinya tarif PPN juga akan meningkat menjadi 12 persen dari yang berlaku saat ini sebesar 10 persen. Sementara itu, tarif PPN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) draft UU KUP dapat diubah menjadi paling rendah 5 persen dan paling tinggi 15 persen.

Sementara itu, pada pasal terbaru Pasal 7A dijelaskan bahwa PPN dapat dikenakan dengan tarif berbeda dari tarif atas penyerahan Barang Kena Pajak tertentu dan/atau Jasa Kena Pajak tertentu; impor Barang Kena Pajak tertentu; dan pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dan/atau Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Tarif berbeda sebagaimana dimaksud dikenakan paling rendah 5 persen dan paling tinggi 25 persen.

Berita Terkait

Musim Hajatan Pascalebaran, Jasa Dekorasi Lamaran dan Nikahan di Jombang Banjir Pesanan
Mengapa Memilih Asuransi Mobil All Risk untuk Proteksi Kendaraan?
Saloka Park Hadirkan Suasana Timur Tengah hingga Wahana Baru di Libur Lebaran
KAI Daop 4 Semarang Siagakan 2.802 Personel di Lebaran 2024
Sidak Pasar di Sidoarjo, Satgas Pangan Polda Jatim Antisipasi Lonjakan Harga Tak Wajar
Ribuan Pemudik Tiba di Wilayah Daop 4 Semarang
OJK Jateng Dorong Akses Keuangan Sektor Pertanian
Momen Lebaran, KAI Daop 4 Semarang Operasikan 3 KA Tambahan

Berita Terkait

Jumat, 19 April 2024 - 13:45 WIB

Musim Hajatan Pascalebaran, Jasa Dekorasi Lamaran dan Nikahan di Jombang Banjir Pesanan

Jumat, 12 April 2024 - 22:14 WIB

Mengapa Memilih Asuransi Mobil All Risk untuk Proteksi Kendaraan?

Senin, 8 April 2024 - 19:23 WIB

Saloka Park Hadirkan Suasana Timur Tengah hingga Wahana Baru di Libur Lebaran

Jumat, 5 April 2024 - 16:32 WIB

KAI Daop 4 Semarang Siagakan 2.802 Personel di Lebaran 2024

Jumat, 5 April 2024 - 11:14 WIB

Sidak Pasar di Sidoarjo, Satgas Pangan Polda Jatim Antisipasi Lonjakan Harga Tak Wajar

Jumat, 5 April 2024 - 00:55 WIB

Ribuan Pemudik Tiba di Wilayah Daop 4 Semarang

Kamis, 28 Maret 2024 - 09:26 WIB

OJK Jateng Dorong Akses Keuangan Sektor Pertanian

Selasa, 26 Maret 2024 - 15:48 WIB

Momen Lebaran, KAI Daop 4 Semarang Operasikan 3 KA Tambahan

KANAL TERKINI

KANAL PEMALANG

Berikan Doorprize kepada Warga Rizal Bawazier Ajak Jauhkan Perbedaan

Minggu, 21 Apr 2024 - 13:32 WIB