Keempat, memberikan pelatihan packaging produk olahan hasil laut. Saat ini sudah banyak UMKM di Desa Tanjung Widoro, Mengare yang mengolah hasil laut, antara lain kerupuk siput, kerupuk ikan payus, kerupuk ikan laut, otak-otak bandeng baik originak, kukus, maupun goreng, bonggolan ikan payus, terasi udang, dan masin ikan. Namun masih terkendala masalah pemasaran terutama dalam kondisi pandemi seperti saat ini. Oleh karena itu diperlukan inovasi untuk meningkatkan penjualan produk UMKM.
Kelima, perbaikan jembatan dan penambahan infografis di dalam kawasan eduwisata, sehingga menambah kemudahan akses bagi wisatawan. Petrokimia Gresik juga melengkapi kawasan tersebut dengan barbagai fasilitas, seperti toilet dan fasilitas umum lainnya.
“Kita tidak hanya memberi ikan, tapi juga kailnya. Sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan secara berkelanjutan,” tandas Dwi Satriyo.
Selain di Mengare, Petrokimia Gresik juga berkontribusi terhadap pembangunan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Ujungpangkah, Kabupaten Gresik hingga mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia kategori “Private Sector/Perusahaan”.
Selanjutnya pengembangan ekowisata mangrove juga dijalankan di Kali Lamong, Desa Sukorejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik yang kini sudah menjadi destinasi wisata baru di Gresik.
“Tidak menutup kemungkinan keberhasilan program tersebut akan terus diadopsi di tempat lain, sehingga cakupan manfaatnya lebih luas lagi,” ujar Dwi Satriyo.
Terakhir, Dwi Satriyo menyatakan bahwa kepedulian terhadap lingkungan telah memberikan dampak yang luas bagi perusahaan. Hal ini menjadi satu instrumen pendukung untuk mengantarkan Petrokimia Gresik sebagai market leader dan dominant player di sektor agroindustri Indonesia. Selain itu juga mendukung target pencapaian PROPER EMAS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2021. (wan)
