Walaupun berbekal uang pas-pasan tak menyurutkan semangatnya untuk mundur dari medan pertandingan. Setelah beberapa hari berjuang di sana, Sapto pun pulang tidak dengan tangan hampa. Ia masuk dalam 8 besar dan 4 besar pemenang.
Di balik tekad keikutsertaan di Malaysia, Sapto sempat juga mengalami beberapa kendala. Pertama, di awal keberangkatannya pun sudah terjadi perang batin dalam diri Sapto. Antara berangkat atau tidak? Berangkat karena ada misi membawa bendera negara, dan tidak berangkat karena tanggal 7 Desember itu anaknya akan wisuda.
“Sempat bingung mas, tapi Alhamdulillah Allah memberikan jalan terbaik. Saya tetap berangkat, dan pulang pun masih bisa menghadiri wisuda anak,” katanya.
Saat kepulangan menuju Indonesia pada tanggal 5 Desember 2019 ada cerita menyedihkan yang dialami. Dalam mengejar waktu menghadiri wisuda anak, kebetulan jadwal penerbangannya ditunda. Sapto sempat linglung menghadapinya. Ia terus berusaha agar bisa terbang pulang ke Indonesia. Dan akhirnya ada jalan dia keluar dari kegelisahan ini.
Setelah dari event Asia, pandemi Covid 19 melanda di seluruh dunia. Efek dari pandemi, semua pertandingan-pertandingan ditunda atau tidak diselenggarakan. Dan sampai sekarang masih off untuk pertandingannya.
Pandemi Tetap Berprestasi
Situasi pandemi hampir menghentikan dan mematikan segala aktifitas seseorang. Tapi tidak bagi Sapto. Hobi dan prestasi larinya tetap ia kejar. Walaupun kejuaraan bersifat langsung (tatap muka) masih tutup, Sapto mencari jalur secara virtual.
Di situasi ini, ia mengikuti “Virtual Run” yang diselenggarakan oleh Jump Run Community. Pertandingan virtual setiap dua Minggu sekali.
Sapto menjelaskan, teknis dari virtual run adalah kita harus mengunduh aplikasi Jump Run dulu. Setelah itu, ada pertandingan lari jarak jauh yang harus dijalani oleh setiap peserta. Pihak server/penyelenggara akan menentukan jarak tempuh dan batas waktu tempuh. Setelah selesai jarak tempuh lari kita lalui, kita kirim bukti ke server.
“Setelah selesai dan tidak melebihi deadline waktu, kita akan mendapatkan medali dan hadiah lain,” jelas Sapto.
Di akhir, Sapto berpesan khususnya kepada teman seprofesi untuk terus bisa memberikan tauladan yang baik bagi anak didiknya. “Ukiran prestasi yang kita dapat, akan menjadi daya tarik sendiri bagi anak didik,” pungkasnya. (pras)
