Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL JATIM

Pentingnya Pengelolaan Keuangan Digital, Hindari Kerugian Pelaku Bisnis

Panitia pelaksana pelatihan Maulina Jayantina, S.Kom., M.P., kesehariannya Peneliti BPSDMP Surabaya Kementerian, Kominfo RI, menjelaskan para peserta yang mendaftar pelatihan melalui online sebanyak 500 pelaku usaha. Yang lolos proses seleksi daftar ulang sebanyak 100 peserta pelaku usaha ditambah dengan 30% nya peserta cadangan. Dari para peserta yang menjalani tes Antigen, ditemukan 1 orang peserta yang dinyatakan positif COVID-19 dan secara otomatis gugur untuk mengikuti pelatihan ini. Agar lebih efektif, pelatihan “Pengelolaan Keuangan Digital DEA” ini terbagi dalam 4 kelas dan berlangsung secara Luring atau interaktif tatap muka langsung.

Sebagian besar para peserta pelatihan datang dari pelaku usaha dan bisnis di kota Surabaya dan sekitarnya, yang rata – rata sudah menjalani pemasaran usaha dan bisnisnya melalui media sosial namun mengaku belum memahami betapa pentingnya pengelolahan keuangan digital.

Seperti yang dialami Roy Krisno Atmojo, pelaku usaha asal Surabaya yang berprofesi sebagai operator alat berat di dunia usaha konstruksi dan bangunan, salah satu peserta “pengelolaan Keuangan Digital” DEA BPSDMP Surabaya Kementerian Kominfo RI.

“Selain saya sebagai Operator Alat Berat, saya juga punya usaha supplier bahan bangunan dan selama 5 tahun ini saya menggunakan medsos (media sosial) untuk pemasaran. Saya mengikuti pelatihan ini selain ingin mendalami pemasaran digital yang dipaparkan oleh pemateri, saya juga membutuhkan bagaimana cara mengelola usaha saya. Kalau saya hanya mengejar pemasaran konvensional, ya penghasilan saya hanya segitu-gitu aja, tapi kalua saya memanfaatkan media digital tentu saya dapat mengoptimalkan hasil penjualan dan omzet saya, dengan saya manajemen pengelolaan keuangan digital agar usaha saya makin berkembang,” tutur pengakuan Roy Krisno Atmojo yang akrab dipanggil Roy.

“Apa yang disampaikan pemateri memang benar – benar yang saya alami. Selama mengikuti pelatihan ini, ada beberapa teknik yang salah saya lakukan dan belum pernah saya lakukan, terutama terkait pengelolaan keuangan digital,” ujar Roy.

Hal yang serupa dialami oleh Andreas Eko Moeljanto asal Surabaya, yang akrab dipanggil Leo, berprofesi sebagai relawan kebencanaan, salah satu peserta lainnya “Pengelolaan Keuangan Digital” program pelatihan DEA BPSDMP Kementerian Kominfo RI.

“Memang sebagai relawan adalah jiwa kita, tapi urusan mencari penghidupan sehari – hari kita dituntut bekerja atau berwira usaha. Relawan saat kebencanaan saya katakana kita buka tabungan (amal), tapi di saat tidak ada bencana, ya kita nabung dari hasil pekerjaan atau usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Hubungannya apa antara kebencanaan dengan pelatihan marketing dan keuangan digital ini, karena saya punya banyak kawan dan relasi yang dapat menunjang pemasaran bisnis saya,” ungkap Leo.

“Saya buka usaha di bisnis kue kering dan kue basah, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Saya juga melakukan pemasaran lewat media digital yaitu medsos, tapi masih belum maksimal berhasil. Sebelum saya mengikuti pelatihan ini, ada beberapa yang saya lakukan selama ini ada yang keliru. Kelirunya, saya memulai usaha menggunakan akun – akun medsos pribadi. Dan di pelatihan ini disarankan menggunakan medsos khusus bisnis dan sebaiknya tidak mencampuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan usaha di medsos, mulai dari postingan – postingan konten mulai dari produksi sampai hasil produksi, hingga melayani menjawab pertanyaan – pertanyaan yang ada, ungkap pengakuan Leo.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita