Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
Opini

Beribadah dengan Ikhlas

oleh Ferry Is Mirza Wartawan Utama Sekertaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim

ALHAMDULILLAH hari ini kita memasuki sepuluh hari akhir Ramadhan. Tentunya selama 20 hari puasa Ramadhan yang telah kita tunaikan serta ibadah lainnya, kita lakukan dengan ikhlas semata karena Allah Ta’ala Lillahi Ta’ala.

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”
(QS. Al-An’am: 162-163)

Sebagai khalifah kita dituntut menghiasi diri dengan sifat terpuji dan salah satunya ikhlas. Ikhlas berarti murni, suci, bersih, tidak bercampur dengan noda atau yang kotor. Laksana susu yang suci dan bersih dalam perut sapi, tidak bercampur dengan darah dan kotoran. Mereka yang bersifat dengan ikhlas dinamakan Mukhlisin

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” (QS. An-Nisa: 125).

Menurut sebagian ulama yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” dalam ayat di atas ialah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang dimaksut dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

Menjadi Mukhlisin bukanlah perkara mudah dan tidak semua orang bisa memiliki sikap ikhlas. Tapi ikhlas memiliki manfaat dahsyat. Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy ra berkata,
“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya, manakah yang termasuk berperang di jalan Allah? Apakah berperang karena keberanian, kesukuan, atau yang berperang karena riya’? Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjawab, ‘Siapa saja yang berperang dengan maksud agar kalimat Allah terangkat, itulah perang di jalan Allah”
(HR.Bukhari dan Muslim)

Semua ibadah, setidaknya melibatkan tiga aspek, yaitu hati atau qalby, ucapan atau qauly, dan perbuatan atau fi’ly. Ketiganya harus dilakukan secara sempurna. Di antara ketiga aspek dimaksud yang paling sulit dilakukan dalam beribadah adalah justru yang memiliki posisi terpenting, yaitu niat dimaksud.

Seorang ulama terkenal pendiri mazhab Syafi’i Imam as-Syâfi’i berkaitan dengan ikhlas berkata, “Seandainya engkau mengerahkan seluruh kemampuanmu untuk menjadikan semua manusia ridha maka tidak ada jalan untuk mewujudkannya. Jika demikian, maka ikhlaskanlah amalan dan niatmu hanya untuk Allâh Azza wa Jalla semata.”

Beranjak dari itu, mari kita terus mengintrospeksikan diri dan terus beramal dengan jiwa yang ikhlas, dan semangat jihad untuk meraih titel Mukhlisin tidak boleh ditinggalkan dan kendur. Mari berlomba dalam kebaikan.

Orang yang Ikhlas

“Keikhlasan adalah ketika hanya Allah yang menjadi maksud dan tujuan seseorang dalam beribadah. Dan ketika itulah akan muncul ‘hikmah’ dari dalam hatinya melalui lidahnya. Dan setiap kali keikhlasan seseorang menguat, maka semakin sempurnalah (meningkat) ‘ubudiyahnya kepada Allah.”
(Ibnu Taimiyah-Al Fatawaa)

“Pemahaman (beragama) yang benar merupakan cahaya yang Allah anugerahkan ke dalam dada hambaNya, yang ditopang oleh ketaqwaan kepadaNya dan bagusnya niat (maksud) hamba tersebut.”
(Ibnul Qayyim-A’lam Al Muwaqi’in)

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita