“Saya sudah beberapa tahun tidak menggunakan plastik atau kresek lagi kalau ke pasar, jadi lama-lama pedagang hafal dengan kita. Sambil menunggu perda tentang penggunaan sampah plastik,” terangnya.
Sementara, Sekjen FPRB Jatim Sudarmanto menyambung dengan bagaimana tantangan di lapangan dalam membangun jejaring mitigasi bencana. Mitigasi, menurut mbah Darmo, perlu dilakukan untuk mengantisipasi bencana berikutnya.
“Upaya mitigasi itu kompleks, saling tergantung dan melibatkan banyak pihak,” ujarnya.
Pria yang akrab dipanggil Mbah Darmo ini juga memberikan pengalamannya ketika dalam mitigasi bencana masyarakat lereng Gunung Kelud di Kabupaten Kediri, Blitar, dan Malang.
Mbah Darmo menyampaikan empat aspek penting untuk mengantisipasi bencana, antara lain; komunikasi, informasi, kerja sama dan koordinasi. “Empat aspek ini merupakan kunci sukses penanganan bencana terutama untuk penanganan korban dan meghindari resiko lebih lanjut,” tambah Mbah Darmo.
Dalam manajemen informasi bencana, lanjut Mbah Darmo, informasi yang disampaikan harus akurat, tepat waktu, dapat dipercaya dan mudah dikomunikasikan.
Dari mitigasi bencana letusan gunung Kelud, bisa dipetik sebuah pelajaran yakni adanya sistem informasi dan komunikasi yang lebih pendek membuat peringatan dini berjalan lebih cepat dan tepat.
“Hasilnya membuat masyarakat dapat menerima informasi peringatan lebih cepat. Efektifitasnya terbukti, karena peristiwa erupsi Gunung Kelud 2014 tidak menimbulkan korban jiwa,” ujarnya
Di sisi lain, jurnalis LKBN Antara Destyan Sujarwoko memberikan pandangan tentang isu iklim di kalangan jurnalis. Ia memaparkan bahwa isu iklim merupakan isu yang sangat bagus.
Dikarenakan, pemberitaan terhadap iklim diharapkan bisa menjadi edukasi untuk publik, seperti kelompok masyarakat petani dan nelayan. Sehingga, mereka dapat beradaptasi dan bahkan memprediksi iklim yang akan terjadi.
“Persepsi media tentang perubahan iklim karena hampir seluruhnya menjadikan berita bencana hidrometeorologi ini sebagai headline, tetapi sedikit yang menyandingkannya langsung dengan isu perubahan iklim, seolah-olah peristiwa-peristiwa ini muncul begitu saja karena musim berubah,” papar Destyan.
Oleh sebab itulah, peran media untuk menjadi penyambung lidah antara pihak yang berkompenten di bidang hidrometeorologi dengan masyarakat luas sangat penting.
“Setiap orang perlu mengetahui lebih banyak tentang perubahan iklim. Oleh karenanya, cara media meliputnya akan mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam menghadapi masalah tersebut,” pungkas Destyan.(*)
