KANALINDONESIA.COM, JOMBANG: Sungguh semringah, penampakan raut wajah salah satu putra Desa Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Hal itu terjadi setelah pria bernama Arya Erlangga (11) mengikuti program khitan sultan yang diselenggarakan di kantor desa setempat pada, Minggu (17/7/2022) malam.
Mengapa tidak, sebelum dikhitan, putra Desa Kepatihan ini diantar dari kediaman rumah ke kantor desa dengan kendaraan becak motor (Bentor) yang dihias seunik mungkin. Tak hanya itu, di belakang becak hias ini juga diiringi hadrah yang diikuti ranting NU Desa Kepatihan dan warga setempat.
Begitu becak melaju, alunan salawat terdengar mengiringi perjalanan Arya menuju tempat khitan. Warga di seberang jalan dusun ini pun ikut menyaksikan, tidak luput sebagian warga yang ikut sembari mendokumentasikan.
Tak lama berselang, becak hias yang menghantarkan Arya tiba di kantor Desa Kepatihan. Tidak ada rasa ragu yang terlihat dari wajah Arya. Dengan berpakaian serba-serbi baru dan islami, Arya memancarkan senyuman kepada warga di depannya sembari menapak kaki menuju ruangan khitan.
Kepala Desa Kepatihan, Erwin Pribadi menjelaskan jika kegiatan khitan sultan massal tersebut sudah jadi kegiatan rutin. Terhitung hingga saat ini, program tersebut dijelaskan sudah berjalan 3 tahun.
“Kegiatan ini sifatnya tidak terjadwal, jadi manakala jika ada warga Desa Kepatihan yang mempunyai niat keberanian untuk khitan, maka keinginan mereka akan diakomodir oleh rekan-rekan pengurus ranting NU Desa Kepatihan. Jadi kegiatan ini dinamakan khitanan sultan, untuk menyemangati dan memotivasi anak-anak yang khitan,” ujar Erwin kepada awak media.
Lanjut Erwin mengatakan, tidak terbatas untuk jumlah anak yang mempunyai keberanian untuk melakukan khitan ini. Sementara saat ini, terhitung ada tiga putra Desa Kepatihan yang telah mengikuti program tersebut.
“Tidak dibatasi, anak-anak Desa Kepatihan yang berani, langsung kita layani. Kalau yang ikut khitan hari ini sama yang kemarin, kurang lebih ada tiga anak. Tapi tidak menutup kemungkinan sampai akhir tahun ini, jadi tidak tau. Soalnya seperti yang saya sampaikan tadi, kegiatan ini tidak terjadwal begitu,” jelasnya saat ditemui di halaman kantor desa setempat.
Tidak dipungut biaya apapun, Erwin memastikan jika anak Desa Kepatihan yang mengikuti khitan itu yakni gratis. Tak sekadar khitan tanpa biaya saja, menurutnya anak yang dikhitan juga diberikan pakaian baru dan gratis juga.
“Semua gratis. Mulai dari khitannya hingga pemberian sarana prasarana seperti sarung, pakaian baju islami dan lain sebagainya,” katanya.
Sementara itu pihaknya berupaya agar program khitan sultan massal itu terus berlanjut. Tak sampai di situ saja, melainkan diharapkan bisa melahirkan inovasi lainnya juga. Salah satu yang disebutkan, seperti bisa menggelar pernikahan massal.
“Harapannya tiada lain bagaimana program ini terus berjalan. Selain itu kami harap tidak sebatas khitanan massal, tapi juga nikah massal. Biar berinovasi, nanti kami akan koordinasi lebih lanjut terlebih dahulu tentang ini,” bebernya.
“Jadi tidak menutup kemungkinan nanti bagi warga Desa Kepatihan yang masih belum resmi menikah secara negara, akan kami akomodir juga dengan menggelar pernikahan massal. Jadi kami akan terus berusaha, berinovasi, bagaimana membantu dan melayani masyarakat,” lanjutnya memungkasi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, proses khitan tak berlangsung lama. Sekitar setengah jam kemudian, proses khitan putra Desa Kepatihan ini selesai. Masih dengan raut wajah penuh senyuman, Arya kembali berjalan kaki menuju kendaraan becak hias tersebut.
