Dia pun menyimpulkan, banyak perempuan yang salah mengartikan kebaikan Subechi. Sehingga, atas dasar berbagai fakta itu lah dirinya yakin tidak pernah terjadi kekerasan seksual seperti yang dituduhkan selama ini.
“Jadi banyak perempuan yang salah mengartikan kebaikan dia. Atas dasar, fakta-fakta itu, saya yakin tidak pernah terjadi pemerkosaan yang dituduhkan dalam dakwaan,” tandasnya.
Dalam hal ini, justru kami sebagai keluarga yang sebagai korban. Terutama Bechi, nama baiknya sudah dicemarkan. Karena beritanya sangat masif sekali.
Ia pun menuding, perkara ini muncul karena ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memfitnah sang suami. Hal itu dilakukan oleh kelompok atau yang disebutnya sebagai gerombolan, tidak hanya sekali. Namun dihitungnya sudah berkali-kali.
“Sejak dulu, di internal kita ada gerombolan tertentu yang bolak balik, berkali-kali memfitnah Mas Bechi. Sudah bukan hitungan 1 atau 2 kali. Fitnah itu sudah berkali-kali. Sebagian orang yang tahu duduk perkara ini. Mereka lebih menilai kasusnya seperti sebagai pelakor yang gagal mendekati suami saya, terus dia itu bekerja sama dengan gerombolan fitnah itu, untuk membawa kasus ini ke ranah hukum,” tegasnya.
Terkait dengan perkara ini, dirinya pun berharap, ada keadilan untuk sang suami. Sebab, sebagai seorang ibu yang memiliki 4 orang anak, kehadiran sang suami sangat dibutuhkan oleh mereka.
“Saya harap ada keadilan. Karena dia tidak pernah menyakiti orang lain. Dia tidak pernah merugikan orang lain. Dia selalu menyebar kebaikan pada masyarakat. Saya sangat berharap keadilan bisa didapatkan suami saya. Mungkin itu saja dari saya,” tutupnya.
Diketahui, MSAT alias Bechi dilaporkan ke Polres Jombang atas dugaan pencabulan terhadap perempuan di bawah umur asal Jawa Tengah dengan Nomor LP: LPB/392/X/RES/1.24/2019/JATIM/RESJBG. Korban merupakan salah satu santri atau anak didik MSAT di pesantren. Ady
