Dibacakan oleh Koordinator dari tujuh Working Group (Pokja) C20, Policy Pack tersebut ditanggapi oleh Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia; Yustinus Prastowo, Staf Khusus Menteri Keuangan RI; Yudo Dwinanda Priaadi, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis; Sigit Reliantoro, Wakil Ketua Pertemuan Deputi Lingkungan – Kelompok Kerja Keberlanjutan Iklim (EDM-CS WG) dari G20; HE Duta Besar Armando Gonzalo Alvarez Reina, Duta Besar Meksiko untuk Republik Indonesia dan ASEAN; dan Duta Besar Shri Manoj Kumar Bharti, Duta Besar India untuk Republik Indonesia.
“Dunia akan menghadapi tantangan yang lebih kompleks di masa depan, dan itu membutuhkan upaya bersama dari semua pemangku kepentingan untuk tidak meninggalkan siapa pun. Saya berharap C20 dapat melanjutkan perannya sebagai wadah untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, dan bekerja sama dengan G20 dengan tidak hanya memberikan wawasan dan keahlian, tetapi juga memastikan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas komitmennya” kata Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia saat menanggapi C20 Policy Pack yang disampaikan oleh Koordinator C20.
Ada beberapa poin mengapa para pemimpin G20 tidak boleh mengabaikan rekomendasi C20. Pertama, C20 memprioritaskan isu-isu yang mencerminkan prinsip keadilan, kesetaraan, inklusivitas, kolaborasi, dan berbagi sumber daya keuangan. Sebagai gambaran, pandemi COVID-19 telah mengganggu pembangunan global dan menimbulkan kesengsaraan bagi jutaan orang, terutama yang berada di negara berkembang. Akses yang sama ke vaksin COVID-19 di seluruh negara belum tercapai. Pada Agustus 2022 hanya 20,3% dari populasi di benua Afrika yang telah divaksinasi sepenuhnya; sementara itu setengah dari negara-negara di Eropa telah mencapai tingkat vaksinasi lebih dari 85% dan telah memulai suntikan booster. Krisis iklim yang berkepanjangan yang diakibatkan oleh tindakan para pemimpin dunia yang kurang tegas dalam menangani hal ini juga telah menyebabkan konvergensi krisis yang dramatis.
