GRESIK, KANALINDONESIA.COM: Komite Sekolah SMA Negeri 1 Wringinanom gelar pertemuan dengan orang tua wali murid, bahas pembangunan sarana dan prasarana (Sarpras), yakni pembangunan lapangan sekolah yang selama ini sering di gunakan untuk kegiatan, diantaranya ekstra kulikuler (Ekskul), Pramuka dan kegiatan lainnya.
Pembangunan Sarpras tersebut, atas dasar keluhan dari beberapa siswa saat menggunakan fasilitas tersebut disaat musim hujan tiba. Kondisinya becek karena tergenang air hujan, diperlukan pavingisasi.
Di dalam forum rapat, komite sekolah menawarkan teknis penggalangan dana dengan cara sumbangan sukarela.
“Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar pada putra putri kami di SMA Negeri 1 Wringinanom ini, saat ini sekolah membutuhkan lapangan yang layak pakai, sehingga kegiatan Ekskul siswa tidak terhambat,”ujar Marso, perwakilan komite SMANEW saat memimpin rapat. Sabtu (29/10/2022).
Marso pun mempertegas, bahwa sumbangan tersebut tidak mengikat, sesuai kemampuan orang tua.
“Jadi sumbangan ini, tidak ada paksaan, semua kita kembalikan ke orang tua, bagi yang tidak yang tidak mampu, bisa mengajukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari desa,”lanjutnya.
Usai menjelaskan peruntukan, dan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut, Kepala Tata Usaha SMP Negeri Wringinanom itu, melemparkan usulan kepada peserta rapat.
Di dalam forum, Siti Mujaiya (44 th) orang tua wali murid kelas X asal Dusun Poting Desa Sembung, Wringinanom, menyampaikan kalau Ia menyekolahkan dua putranya di sekolah setempat, di kelas yang sama, pihaknya menyampaikan kepada komite sekolah, untuk meminta keringanan agar yang menyumbang satu anak saja.
“Kulo sangat mendukung pembangunan niki mas, sedanten kan, kangge keperluan yugo, dados mboten masalah, tapi kulo nyuwun keringanan dateng Komite, yang nyumbang setunggal mawon(Jawa -red), saya mendukung, semua ini kan demi kebaikan bersama, jadi tidak ada masalah, tapi khusus bagi saya, saya menyumbangnya satu saja,”katanya saat dikonfirmasi awak media usai meninggalkan ruangan.
“Wong bapake lare-lare namung buruh pabrik mas, ngasto teng pabrik baja (jawa-red), bapaknya anak-anak ini seorang buruh pabrik, kerja di pabrik baja,” sambung ibu-ibu berpewakan tinggi besar itu.
Orang tua murid yang lain, Sulistyowati, wali murid kelas X asal Dusun Tanggungan, Desa Wringinanom mengusulkan,”bagaimana kalau plafon dana yang dibutuhkan dibagi rata pada semua peserta yang hadir,”usulnya.
Namun, pemimpin rapat mempertegas bahwa penggalangan dana ini sifatnya sumbangan sukarela.
“Kalau dibagi rata, nanti jatuhnya akan ditentukan besaran nominalnya, itu bukan sumbangan namanya, tapi tarikan,”tegas Marso.
Kepada wartawan, Wawan, orang tua wali murid kelas X, pihaknya menyampaikan sangat mendukung pembangunan itu, namun, sistem pembayarannya harus fleksibel artinya dapat diangsur.
“Untuk penggalangan dana ini, kami sebagai wali murid, intinya sangat mendukung, asalkan fleksibel (dapat di angsur ). Jujur kami menyekolahkan putra kami di sekolah negeri ini cari yang ringan. Kalau dibandingkan dengan sekolah swasta ya jauh lebih mahal sekolah swasta mas,”kata dia.
Sekedar informasi, momen tersebut di bagi menjadi 3 sesi, sesi pertama, kelas X, dimulai pukul 07.00 hingga pukul 09.00, sesi kedua, Kelas XI, di mulai pukul 09.00 hingga pukul 11.00, sesi ketiga, kelas XII, mulai pukul 11.00 hingga selesai. (Irwan _kanalindonesia.com).
