Amandemen Statuta
Selain memilih pengurus baru yang diisi dengan orang-orang baru, KLB PSSI juga harus sekalian mengamandemen atau merevisi Statuta PSSI yang selama ini dijadikan PSSI sebagai tameng untuk berlindung ketika terjadi penyimpangan.
Selama ini PSSI ibarat negara di dalam negara yang sulit dikontrol pemerintah. Mereka berlindung di balik statuta. Akibatnya, banyak penyimpangan di PSSI yang sulit ditindak secara hukum.
Dalam emergency meeting atau rapat darurat yang dihadiri seluruh Exco PSSI, Jumat (28/10/2022), PSSI memutuskan untuk menggelar Kongres Biasa pada 7 Januari 2023 dan Kongres Luar Biasa (KLB) pada 18 Maret 2023. Kongres Biasa unttuk memilih Komite Pemilihan (KP) dan Komite Banding Pemilihan (KBP). KP dan KBP inilah yang akan menyelenggarakan KLB untuk memilih pengurus baru PSSI. PSSI sudah berkirim surat ke Federation of International Football Association (FIFA) untuk meminta persetujuan KLB.
Padahal, beberapa saat sebelumnya, Iwan Bule keeukeh tidak mau menggelar KLB, apalagi mengundurkan diri. Bahkan mantan Kapolda Metro Jaya itu road show ke mana-mana untuk mencari dukungan, termasuk ke Menteri Sekretaris Negara Pratikno. Usai bertemu Pratikno, Rabu (26/10/2022), Iwan Bule mengklaim Presiden Jokowi merestui dirinya untuk tetap memimpin PSSI.
Nah, tindakan drastis Iwan Bule yang tiba-tiba berubah dan menyetujui KLB itulah yang mengundang kecurigaan. Sikap akomodatif PSSI terhadap rekomendasi TGIPF bisa saja dinilai sekadar bargaining position dan bargaining power atau tawar-menawar posisi dan tawar-menawar kekuasaan kepada pemerintah, seolah-olah PSSI mau melaksanakan rekomendasi TGIPF. Bagi PSSI, mereka berharap agar Liga 1 dan Liga 2 diizinkan pemerintah untuk digulirkan kembali. Bagi Iwan Bule, agar tidak diproses hukum atas Tragedi Kanjuruhan.
Tragedi Kanjuruhan terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, 1 Oktober lalu yang menewaskan 135 orang. Tragedi terjadi usai pertandingan Liga 1 antara tuan rumah Arema FC dan Persebaya Surabaya dengan skor 2:3. Kekalahan Singo Edan atas Bajul Ijo itulah yang memacu Aremania turun ke stadion. Ironisnya, polisi menyambut berhamburannya suporter ke lapangan dengan tembakan gas air mata. Maka tragedi pun tak terelakkan.
