Sukardiasih menjelaskan, stunting tidak bisa dipandang sebelah mata karena akan menjadi ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia yang berakibat pada rendahnya daya saing Bangsa. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021, prevalensi stunting Indonesia yakni 24,4%.
“Untuk menekan kasus stunting kita harus sosialisasikan dari hulu, yaitu dari remaja, karena para remaja ini kedepannya merupakan calon-calon orangtua yang akan mencetak generasi baru,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama Wakil Bupati Tabanan I Made Edi Wirawan SE yang diwakili oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Tabanan dr I Nyoman Suratmika mengatakan, KTT G20 merupakan acara luar biasa yang harus mendapatkan dukungan dari masyarakat luas dengan harapan akan memberikan daya ungkit yang signifikan untuk bisa bangkit dari Covid-19.
Dalam upaya percepatan penurunan stunting sendiri, Kabupaten Tabanan menargetkan turun menjadi 5,41% pada 2024 dari 9,2% pada 2021.
“Ini yang menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Tabanan dengan visinya Nangun Sat Kerty Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana yang unggul dan madani. Cara yang dilakukan adalah melakukan pendekatan pada remaja,” ujarnya.
