Dalam perkembangannya, warga kemudian sebagian memeluk agama Islam. Sebagian lagi tetap memeluk agama Hindu. Dan bahkan pernikahan warga di antara kedua pemeluk agama juga terjadi. Semisal, warga Muslim menikahi warga yang beragama Hindu yang kemudian muallaf.
Tak heran, kehidupan masyarakat di Desa Batu Kumbung begitu guyub dan rukun. Tak pernah ada pertentangan antara warga di sana. Di sinilah, praktik toleransi antar umat beragama benar-benar dipraktikkan.
Ambil contoh misalnya saat ada warga yang meninggal. Begitu ada pengumuman berita kematian di masjid atau musala, umat Hindu kemudian akan secara serentak mengumpulkan uang duka untuk kemudian membantu keluarga Muslim yang sedang ditimpa musibah. Pun begitu saat ada umat Hindu yang meninggal. Hal serupa juga dilakukan oleh umat Muslim. Begitu pula pada saat ada hajatan. Mereka saling membantu satu sama lain.
“Tradisi seperti ini sudah ada semenjak kami bahkan belum lahir. Ini adalah peninggalan leluhur kami,” kata Made Putra.
Antar kedua umat beragama pun begitu saling menjaga satu sama lain. Menyadari bahwa mata air dari Pura Pancor Munjuk dialirkan ke Masjid Hidayatul Islam untuk kebutuhan umat Islam beribadah, maka leluhur umat Hindu membuat aturan yang sangat tegas. Bahwa tidak boleh ada upacara yang menghadirkan daging Babi di pura.
Di Pura ini, Babi tak boleh ada, tak juga boleh didatangkan atau dibawa untuk disembelih, atau dagingnya diolah, dimasak, lalu disantap baik oleh perorangan atau bersama-sama di sana. Larangan itu masih terjaga hingga kini.
“Jadi kalau ada upacara, kami umat Hindu menyembelih kerbau,” kata Made Putra.
Suci Menyucikan
H Tantowi, tokoh agama Islam yang hadir berbincang dengan tim ekspedisi menekankan, dengan cara itulah, maka air yang mengalir dari Pura ke Masjid tetap terjaga kesuciannya. Sehingga memenuhi kaidah dan unsur air yang suci menyucikan bagi umat Islam sesuai dengan kaidah Fiqih.
Dikatakan, baik umat Islam maupun umat Hindu begitu bersyukur, bahwa leluhur mereka telah mewariskan secara turun temurun tentang pentingya toleransi, saling menghormati, meski mereka berbeda keyakinan.
“Apa yang kami lakukan hingga hari ini, adalah sepenuhnya mengikuti apa yang sudah dilakukan leluhur kami lebih dari satu abad,” kata H Tantowi, yang merupakan paman dari Made Putra, lantaran menikahi bibi tokoh yang karib disapa Made Arab tersebut.
Dewan Pembina Tim Ekspedisi H Rachmat Hidayat sendiri mengaku begitu takjub atas komitmen yang begitu tinggi masyarakat Muslim dan masyarakat Hindu di Desa Batu Kumbung yang telah merawat keberagaman sedemikian indahnya. Itulah mengapa dirinya melabeli Desa Batu Kumbung sebagai tamansarinya keberagaman di NTB dan juga di Indonesia.
“Bagi mereka yang belum juga memahami arti pentingnya ke-Indonesiaan, datanglah belajar ke Desa Batu Kumbung,” kata Anggota Komisi VIII DPR RI ini.
Rachmat menegaskan, Desa Batu Kumbung layak masuk menjadi teladan toleransi dunia, karena telah memberikan contoh toleransi yang baik antarumat beragama. Di desa ini juga terdapat dusun yang diplot sebagai “Kampung Toleransi” yakni Dusun Tragtag. Dimana harmonisasi dua suku yaitu Suku Bali dan Suku Sasak yang hidup rukun berdampingan.
Hal itu dinilai Rachmat sebagai bentuk konkret pengimplementasian nilai-nilai Pancasila.
“Di Batu Kumbung inilah kita melihat Pancasila. Ada keberterimaan, toleransi, dan keberagamaan,” tandas Rachmat.
