Agenda simposium di hari kedua silakwil terbuka untuk umum. Terbuka bagi siapa saja yang tertarik dan berkenan menyumbangkan pemikiran, khususnya gagasan briliant untuk mendorong terwujudnya pemerintahan yang Good Governance, bersih, berwibawa, dan bebas korupsi. Termasuk juga terwujudnya sistem ekonomi dan bisnis yang sehat, jujur, mengadvokasi pelaku bisnis yang lemah, mensejahterakan, menumbuh kembangkan pola kemitraan yang saling menguntungkan, bukan saling menjatuhkan, dan tentu saja yang berbasis syariah.
TAHUN POLITIK
Yang menarik adalah, silakwil ICMI Jatim diselenggarakan di tahun ini, yang kita semua menyebutnya sebagai tahun politik. Tahun persiapan pesta demokrasi untuk Pemilu 2024. Yaitu pemilu untuk memilih presiden, anggota DPR/MPR di tingkat nasional, dan angota DPRD di tingkat daerah di seluruh wilayah Indonesia, yang dilakukan secara serentak.
Lebih menarik lagi karena Jawa Timur saat ini sedang menjadi perbincangan serius oleh kalangan politisi, terutama berkaitan dengan persiapan pinang meminang calon presiden dan calon wakil presiden.
Sementara ini di masyarakat sedang berkembang teori yang menyatakan bahwa barometer kemenangan peilihan presiden di tahun 2024 antara lain adalah jawa timur. Dikatakan bahwa, siapa yang menguasai Jawa Timur bakal memenangi persaingan dalam pilpres.
Teori ini bahkan menjelaskan lebih rinci dan detail bagaimana potensi jawa timur sangat penting. Baik dilihat dari perspektif kuatnya pengaruh ormas tertentu, maupun dari perspektif tingginya popularitas dan elektabilitas gubernur jawa timur saat ini. Dan seterusnya, dan seterusnya. Pokoknya makin dibaca dan makin didiskusikan makin menarik saja … hehehe.
Maka ketika silakwil ICMI jatim diselenggarakan di tahun ini, dimana salah satu agendanya adalah pidato sambutan Gubernur Jawa Timur, dan diperkirakan tokoh-tokoh nasional dari Jakarta akan banyak hadir di forum terebut, menjadilah momen silakwil ICMI jatim perbincangan menarik. Selalu saja ada yang menduga bahwa silakwil ICMI Jatim tahun ini kental nuansa politiknya.
Saking serunya rasan-rasan tentang kentalnya atmosfir politik di silakwil ICMI Jatim tahun ini, sampai-sampai teman-teman dari Bank Jatim merasa ketar-ketir. Dalam beberapa kesempatan rapat-rapat koordinasi persiapan pelasanaan silakwil, teman-teman dari Bank Jatim sempat mempertanyakan hal tersebut kepada saya secara langsung dalam rapat terbatas. Bahkan mereka berpesan khusus kepada saya agar jangan sampai ada statement atau deklarasi politik di forum silakwil tersebut.
Kekhawatiran teman-teman Bank Jatim memang beralasan. Karena lokasi silakwil memang diadakan di hall Bank Jatim. Dan bank jatim adalah lembaga bisnis umum yang tidak boleh kelihatan membela atau condong pada kandidat tertentu dalam pemilu, juga dalam pilpres.
Saya sampaikan kepada teman-teman Bank Jatim bahwa saya menjamin, insyaalloh tidak akan ada acara deklarasi dukung mendukung kandidat calon presiden dan calon wakil presiden. Dan itu klir saya sampaikan juga ke panitia, dan sudah disepakati. Karena memang silakwil bukan forum politik.
Bahwa jika nanti dari silakwil muncul pemberitaan di media yang bersinggungan dengan politik dukung mendukung, yang bersumber dari toko-tokoh tertentu yang hadir di silakwil ICMI Jatim, tentu bukan menjadi tanggung jawab dan domain saya maupun panitia. Teman-teman wartawan dan media tentu punya kebebasan untuk bertanya atau memancing-maincing narasumber mereka ke arah yang mereka perlukan.
KARENA ICMI TERPANGGIL
