Langsung ke konten utama Langsung ke navigasi utama Langsung ke sidebar Langsung ke footer
KANAL BUDAYA DAN WISATA

Ruwat Desa di Makam Mbah Kramat, Warga Banyu Urip Gresik Meyakini Akan Membawa Berkah

GRESIK, KANALINDONESIA.COM: Mengutip sejarah tradisi ruwat desa yang merupakan kegiatan rutin masyarakat Desa Banyuurip Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik, Jatim.

Perhelatan ruwat desa berupa selamatan di area makam leluhur, yang di kenal dengan sebutan makam Makam Mbah Kramat, dilakukan rutin oleh warga tiap tahun menjelang bulan Suci Ramadhan.

Mengulas sedikit sejarah tentang munculnya nama Desa Banyuurip, menurut sesepuh desa, zaman dahulu kala di Desa Banyuurip, tepatnya di Dusun Banyuurip terdapat sebuah “Sumur Gede”, konon katanya dulunya itu adalah tempat persinggahan seorang Pengembara yang akan pergi untuk menemui seorang guru.

Ditengah perjalanan beliau merasa lapar dan haus lalu istirahat disebuah pohon besar dan menemukan sumber air di bawah pohon tersebut, maka diminumlah air tersebut sehingga Pengembara tersebut badannya menjadi segar dan sehat kembali, maka lokasi tersebut dinamakan Banyuurip atau Dusun Banyuurip. Hal ini pernah diceritakan oleh salah seorang sesepuh dusun Banyuurip.

Di tahun ini, tepatnya pada Minggu, (19/3/2023) warga Dusun Miru Desa Banyuurip menggelar hajatan akbar yang bertempat di Makam leluhur, Mbah Kramat. Oleh warga setempat, makam tersebut sudah direnovasi, bentuk bangunannya sudah dikelilingi tembok batu bata, di tengahnya terdapat kuburan panjang yang di kelilingi jaring-jaring.

Makam leluhur pun terlihat jelas dari luar jaring, dengan kain kafan yang masih menyelimutinya, lengkap dengan tiga tali pocongnya. Terdapat tiga sesepuh di dalam makam keramat tersebut, yakni Syeh Ahmad, Syeh Ja’far Shodiq, Syeh Abdul Fatah.

Disamping makam terdapat pohon randu besar, umurnya kisaran sudah mencapai ratusan tahun.

Pada puncak peringatan, warga mendirikan panggung dan tenda, dilokasi luar makam, yang berguna untuk tempat sesepuh desa dan Kyai yang memimpin do’a dan pelantun kalimat Toyyibah.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Banyuurip, Khoirul Muis, menyampaikan terimakasih kepada warga desa yang telah meluangkan waktu, mencurahkan tenaga dan pikiran demi terselenggaranya acara bersih desa ini.

“Kami sampaikan terimakasih kepada semua warga desa dan panitia penyelenggara atas kerjasamanya, sehingga momentum ruwat desa ini berjalan dengan baik,”kata dia.

“budaya tradisi selalu menarik untuk disimak di tengah-tengah peradaban modern. Mempertahankannya, berarti melestarikan warisan leluhur yang mulai tergerus oleh zaman. Untuk itu saya salut melihat teman-teman Karang Taruna desa, yang guyup, rukun, bersatu kompak membantu warga. Tanpa panjenengan semua kami bukanlah apa-apa,”lanjut Muis.

Dari pantauan, reporter Kanalindonesia.com, area makam seluas 2000 meter persegi tersebut dipadati warga mulai dari anak kecil, remaja, orang dewasa dan lansia. Duduk di tanah beralaskan tikar dan terpal.

Kendati demikian, tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengumandangkan sholawat secara bersamaan, yang dipandu oleh Kyai dan sesepuh desa.

Bagikan

Baca berita lainnya:

Tambahkan ke Preferensi Sumber Indeks Berita