Tahun 2024, jika saya kembali ikut memenangkan capres, ia menjadi lima kali berturut-turut. Dan selayaknya pada pilpres 2024 artificial intelligence digunakan.
Topik ini pula yang akan menjadi materi kelas saya untuk Mini MBA marketing politik.
Dalam hal apa artificial intelligence bisa membantu dunia marketing politik? Setidaknya dalam empat hal berikut. (1)
Pertama, Artificial Intelligence akan lebih sangat cepat dan lebih akurat membuat model prilaku pemilih.
Model yang menggunakan AI dapat membuat prediksi. Ia dapat digunakan untuk menentukan probabilitas seorang pemilih mendukung kandidat tertentu.
Dengan menganalisis faktor-faktor seperti pola pemungutan suara, data demografis, dan preferensi isu, model ini dapat mengidentifikasi pemilih yang kemungkinan besar akan mendukung kandidat tertentu.
Kedua, Artificial Intelligence akan lebih cepat dan lengkap untuk melakukan personalisasi pesan kandidat.
Al dapat menyesuaikan pesan capres untuk masing-masing pemilih dengan menganalisis beberapa variabel. Antara lain: informasi demografis, catatan pemungutan suara, dan kekhawatiran atau preferensi pemilih pada isu.
Pendekatan ini memungkinkan kampanye politik untuk membuat pesan yang lebih terarah, emosional dan efektif. Semakin pesan bersifat personal, sesuai dengan kebutuhan individual pemilih, semakin ia berpotensi mendapatkan dukungan pemilih itu.
Ketiga, artificial inteligence membantu lebih cepat dan akurat mengenali kekuatan dan kelemahan masing- masing kandidat yang bersaing.
Dalam marketing politik, dikenal tradisi yang disebut opposition research. Setiap kubu yang bertarung harus meriset secara detail siapa rivalnya itu, terutama jejaknya yang pernah bermasalah.
Penelitian oposisi menjadi sentral untuk kampanye politik. Ia melibatkan riset mendalam soal jejak pesaing, setidaknya jejak digital. Lebih dari yang lain, artificial intelligence dapat melakukan ini lebih cepat dan lebih akurat.
Keempat, artificial intelligence dapat membantu lebih cepat dan lebih akurat membaca percakapan di media sosial.
Di era ini, media sosial menjadi medium yang kian hari kian merasuk ke dalam memori kolektif publik luas.
Artificial Intelligence dapat digunakan untuk tujuan menganalisis influencer, tren, dan sentimen media sosial. Ini dapat membantu capres memahami lebih baik tentang preferensi pemilih dan jangkauan media sosial.
Maka diskusi dan topik yang relevan dapat diidentifikasi, memungkinkan kampanye politik untuk terlibat dengan pemilih secara real-time.
Sambil bersiap- siap untuk menyampaikan materi kelas Mini MBA itu, ada yang memberi pesan: “bro Denny harus siap- siap juga jika ada yang bertanya, siapa yang akan menang jika Ganjar, Prabowo dan Anies bertarung?
Atau pertanyaan: “siapa capres yang akan dibantu oleh LSI Denny JA?”
Saya pun tersenyum dan menjawab: “yess,biarlah itu menjadi diskusi di kelas nanti.”
CATATAN
1. Artificial Intelligence mulai digunakan untuk kampanye politik
